Kerugian akibat perubahan iklim yang terus meningkat uji ketahanan jaring pengaman asuransi China | Asian Business Review
, China
2043 views
In photo: Sven Liu, QBE Re's Head of Greater China

Kerugian akibat perubahan iklim yang terus meningkat uji ketahanan jaring pengaman asuransi China

Perusahaan asuransi yang untung besar pun punya batas dalam mengalihkan risiko bencana, meski skala pasarnya besar.

Celah proteksi terhadap bencana alam di China yang mencapai sekitar 90% memberi tekanan pada kemampuan negara ini menyerap dan mengalihkan risiko iklim, kendati sektor asuransi non-life di sana tergolong besar dan menguntungkan.

Angka ini jauh di atas rata-rata global yang berkisar 50%, mencerminkan bahwa cakupan asuransi tidak mampu mengimbangi lonjakan eksposur bencana di pasar non-life terbesar kedua dunia ini.

Kerugian akibat banjir, topan, dan cuaca ekstrem kian sering terjadi dan makin parah dampaknya, namun kapasitas proteksi tidak kunjung menyusul.

“Urbanisasi, klasterisasi industri, dan terpusatnya aset-aset yang dapat diasuransikan terus memperbesar akumulasi risiko,” ujar Sven Liu, Head of Greater China di QBE Re, unit reasuransi dari QBE Insurance Group, kepada Insurance Asia.

Ia menambahkan bahwa eksposur risiko tumbuh paling cepat di wilayah-wilayah ekonomi utama, yang pada gilirannya mendorong naiknya permintaan proteksi reasuransi.

Sektor asuransi non-life China terdiri dari lebih dari 80 perusahaan asuransi utama dan berhasil membukukan premi bruto lebih dari US$255 miliar pada 2025, naik 3,9% dari tahun sebelumnya. Pasar ini masih terkonsentrasi, dengan tiga perusahaan asuransi terbesar menguasai lebih dari 60% pangsa pasar. Laba bersih gabungan ketiganya naik 17% menjadi US$9,4 miliar.

Namun, kekuatan finansial tersebut berbanding terbalik dengan cakupan proteksi bencana yang masih terbatas. Rasio sesi reasuransi China—porsi risiko yang dialihkan perusahaan asuransi ke reasuradur—berada di kisaran 10%, jauh di bawah level yang lazim ditemukan di pasar-pasar yang lebih matang. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa celah proteksi lebih mencerminkan kendala struktural, bukan sekadar persoalan siklus harga.

“Diversifikasi risiko bencana tetap menjadi pendorong utama,” kata Liu dalam jawaban tertulis atas pertanyaan yang diajukan.

Reasuransi menopang kapasitas underwriting dan efisiensi modal, sehingga perusahaan asuransi bisa menyeimbangkan retensi risiko di berbagai lini bisnis. Seiring meningkatnya kerugian akibat bencana, reasuransi tetap menjadi mekanisme paling efektif untuk menyebarkan risiko skala besar melampaui neraca domestik.

Tekanan juga datang dari risiko-risiko baru yang muncul seiring perkembangan teknologi. Energi terbarukan, kecerdasan buatan, robotika, ekonomi ketinggian rendah (low-altitude economy), hingga penerbangan komersial luar angkasa turut memperluas profil eksposur perusahaan asuransi.

“Risiko-risiko ini ditandai dengan ketidakpastian tinggi, data historis yang minim, dan volatilitas yang besar,” ujar Liu, menyoroti tantangan dalam pemodelan dan penetapan harga.

Perusahaan asuransi kini mulai bergeser dari pola berbagi risiko di seluruh lini bisnis, dan beralih membeli perlindungan yang baru cair ketika kerugian sudah membesar atau terkonsentrasi.

Mereka juga tengah merombak skema reasuransi, menambahkan perlindungan untuk risiko-risiko baru, sembari berupaya beroperasi lebih efisien. Keputusan soal berapa banyak risiko yang tetap ditahan sendiri diambil berdasarkan kombinasi data dan pengalaman.

QBE Re menyebut bahwa pihaknya hanya menerima bisnis yang benar-benar dipahami dan dapat dihitung risikonya secara tepat, dengan mengandalkan kemitraan jangka panjang dan pengalaman global.

Menurut Liu, harga premi diperkirakan akan tetap stabil, namun tantangan yang lebih besar terletak pada apakah perusahaan asuransi mampu mengalihkan risiko besar dan kompleks secara efektif.

Follow the link s for more news on

Reasuransi Asia-Pasifik cari pertumbuhan ke luar negeri seiring persaingan yang kian ketat

Modal reasuransi global diproyeksikan mencapai rekor $705 miliar pada 2026.

ACA pilih AI internal yang lebih lambat demi menjaga kerahasiaan data nasabah

Nasabah di bawah 45 tahun lebih sering memantau klaim asuransi mereka sendiri.

Penjualan bisnis asuransi HSBC dinilai sebagai penyederhanaan portofolio, bukan pergeseran regional

Transaksi asuransi di Asia turun menjadi 31 pada semester pertama dari 41 pada periode yang sama tahun lalu.

RTS Link tekan peritel grocery dan bisnis F&B di Singapura

Konsumen berpotensi membelanjakan US$1,05 miliar lebih banyak per tahun di Johor Bahru.

Ranch Market simpan data pelanggan secara internal demi menjaga layanan premium

Anggota Diamond Plus dapat menghubungi manajer toko secara langsung untuk pesanan khusus.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Pekerja platform masih hadapi kesenjangan layanan kesehatan meski ada perlindungan hukum

Foodpanda dan Singlife meluncurkan program diskon klinik pada Agustus lalu.

Insurtech asia bergeser dari sekadar hype ke fundamental yang lebih kuat

Investor mulai beralih ke perusahaan dengan jalur yang lebih jelas menuju profit.