Asuransi Asia Tenggara berisiko tergerus laba akibat sistem data yang lemah | Asian Business Review
, Southeast Asia
1658 views
In photo: Raunak Mehta, co-founder and CEO at Igloo

Asuransi Asia Tenggara berisiko tergerus laba akibat sistem data yang lemah

CEO Igloo sebut infrastruktur usang batasi manfaat AI meski belanja teknologi terus naik.

Perusahaan asuransi umum di Asia Tenggara berisiko kehilangan hingga empat poin persentase dari profitabilitasnya jika menerapkan kecerdasan buatan (AI) di atas sistem data yang sudah usang, karena infrastruktur yang lemah membatasi manfaat dari otomatisasi.

“Jika investasi yang tepat dilakukan dalam AI selama periode tiga hingga lima tahun, seharusnya kita bisa melihat peningkatan sebesar 300 hingga 400 basis poin,” ujar Raunak Mehta, co-founder sekaligus CEO perusahaan teknologi asuransi Igloo, kepada Insurance Asia.

Namun, potensi pertumbuhan tersebut tidak merata, katanya, dan perusahaan asuransi yang tidak melakukan pembaruan sistem mungkin tidak akan merasakan manfaat serupa.

“Perusahaan asuransi umum di Asia Tenggara beroperasi dengan combined ratio yang sangat tinggi,” ujarnya lewat sambungan telepon. “Karena itu, mereka kerap beroperasi dengan margin laba bersih yang amat tipis.”

Belanja untuk AI terus meningkat di seluruh sektor ini. Berdasarkan laporan Boston Consulting Group, Inc. pada Maret lalu, investasi diperkirakan naik dari sekitar 0,6% dari pendapatan pada 2025 menjadi 1,9% pada tahun ini.

Laporan tersebut juga mencatat hanya sekitar sepertiga perusahaan asuransi properti dan kecelakaan (property and casualty) yang benar-benar memahami peran AI di seluruh alur kerja mereka, meski teknologi ini bisa memangkas biaya sekaligus mendorong pertumbuhan premi.

Menurut Mehta, AI dapat menekan biaya penanganan klaim, mendeteksi kecurangan (fraud) lebih dini, serta membatasi kelebihan pembayaran klaim. Ia menambahkan, AI juga berpotensi menurunkan loss ratio dengan memperbaiki proses seleksi risiko.

“AI akan sangat membantu menurunkan loss ratio dengan menekan angka kecurangan, dan pada gilirannya, memperbaiki proses seleksi risiko yang selama ini kerap merugikan (adverse selection),” ujarnya.

Sementara itu, laporan terpisah dari KPMG International Ltd. menunjukkan bahwa perusahaan asuransi tetap optimistis meski dibayangi risiko ekonomi dan iklim. Sekitar 82% CEO perusahaan asuransi menyatakan yakin akan pertumbuhan perusahaannya, naik dari 74% pada tahun sebelumnya, sementara 78% menyatakan optimis terhadap prospek sektor ini secara keseluruhan.

Namun, menurut Mehta, optimisme tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran akan keterbatasan operasional yang ada.

“Kita perlu memisahkan antara lapisan hype dan apa yang saya sebut sebagai lapisan infrastruktur,” ujarnya, seraya mencatat bahwa banyak perusahaan asuransi masih mengandalkan sistem yang usianya sudah puluhan tahun, sehingga memerlukan pembaruan besar-besaran sebelum AI bisa diterapkan secara efektif.

Igloo sendiri memproses sekitar 90 juta polis per bulan, melayani lebih dari 50 juta pelanggan di seluruh kawasan, kata Mehta.

KPMG menyebutkan AI tetap menjadi prioritas utama, dengan 73% CEO menempatkannya sebagai area investasi teratas, dan 67% berencana mengalokasikan 10% hingga 20% dari anggaran mereka untuk analitik, otomatisasi, serta AI generatif.

Keamanan siber tetap menjadi perhatian utama, dengan 83% eksekutif menyebut kejahatan siber sebagai ancaman terbesar.

Menurut Mehta, sistem yang lebih cepat tidak serta-merta meningkatkan risiko, seraya mencatat bahwa banyak insiden siber justru berasal dari rekayasa sosial (social engineering), bukan dari kecepatan sistem itu sendiri. Ia menambahkan, perusahaan sebaiknya fokus pada kualitas data dan sistem internal guna mendukung proses pengambilan keputusan.

“Meski kami tidak membangun foundation model sendiri, fokus kami ada pada data proprietary yang kami miliki, dan bagaimana kami memanfaatkannya untuk menghasilkan pengetahuan serta pengambilan keputusan setingkat enterprise,” ujarnya.

Follow the link s for more news on

Reasuransi Asia-Pasifik cari pertumbuhan ke luar negeri seiring persaingan yang kian ketat

Modal reasuransi global diproyeksikan mencapai rekor $705 miliar pada 2026.

ACA pilih AI internal yang lebih lambat demi menjaga kerahasiaan data nasabah

Nasabah di bawah 45 tahun lebih sering memantau klaim asuransi mereka sendiri.

Penjualan bisnis asuransi HSBC dinilai sebagai penyederhanaan portofolio, bukan pergeseran regional

Transaksi asuransi di Asia turun menjadi 31 pada semester pertama dari 41 pada periode yang sama tahun lalu.

RTS Link tekan peritel grocery dan bisnis F&B di Singapura

Konsumen berpotensi membelanjakan US$1,05 miliar lebih banyak per tahun di Johor Bahru.

Ranch Market simpan data pelanggan secara internal demi menjaga layanan premium

Anggota Diamond Plus dapat menghubungi manajer toko secara langsung untuk pesanan khusus.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Pekerja platform masih hadapi kesenjangan layanan kesehatan meski ada perlindungan hukum

Foodpanda dan Singlife meluncurkan program diskon klinik pada Agustus lalu.

Insurtech asia bergeser dari sekadar hype ke fundamental yang lebih kuat

Investor mulai beralih ke perusahaan dengan jalur yang lebih jelas menuju profit.