Asuransi Asia Tenggara berisiko tergerus laba akibat sistem data yang lemah | Asian Business Review
, Southeast Asia
1543 views
In photo: Raunak Mehta, co-founder and CEO at Igloo

Asuransi Asia Tenggara berisiko tergerus laba akibat sistem data yang lemah

CEO Igloo sebut infrastruktur usang batasi manfaat AI meski belanja teknologi terus naik.

Perusahaan asuransi umum di Asia Tenggara berisiko kehilangan hingga empat poin persentase dari profitabilitasnya jika menerapkan kecerdasan buatan (AI) di atas sistem data yang sudah usang, karena infrastruktur yang lemah membatasi manfaat dari otomatisasi.

“Jika investasi yang tepat dilakukan dalam AI selama periode tiga hingga lima tahun, seharusnya kita bisa melihat peningkatan sebesar 300 hingga 400 basis poin,” ujar Raunak Mehta, co-founder sekaligus CEO perusahaan teknologi asuransi Igloo, kepada Insurance Asia.

Namun, potensi pertumbuhan tersebut tidak merata, katanya, dan perusahaan asuransi yang tidak melakukan pembaruan sistem mungkin tidak akan merasakan manfaat serupa.

“Perusahaan asuransi umum di Asia Tenggara beroperasi dengan combined ratio yang sangat tinggi,” ujarnya lewat sambungan telepon. “Karena itu, mereka kerap beroperasi dengan margin laba bersih yang amat tipis.”

Belanja untuk AI terus meningkat di seluruh sektor ini. Berdasarkan laporan Boston Consulting Group, Inc. pada Maret lalu, investasi diperkirakan naik dari sekitar 0,6% dari pendapatan pada 2025 menjadi 1,9% pada tahun ini.

Laporan tersebut juga mencatat hanya sekitar sepertiga perusahaan asuransi properti dan kecelakaan (property and casualty) yang benar-benar memahami peran AI di seluruh alur kerja mereka, meski teknologi ini bisa memangkas biaya sekaligus mendorong pertumbuhan premi.

Menurut Mehta, AI dapat menekan biaya penanganan klaim, mendeteksi kecurangan (fraud) lebih dini, serta membatasi kelebihan pembayaran klaim. Ia menambahkan, AI juga berpotensi menurunkan loss ratio dengan memperbaiki proses seleksi risiko.

“AI akan sangat membantu menurunkan loss ratio dengan menekan angka kecurangan, dan pada gilirannya, memperbaiki proses seleksi risiko yang selama ini kerap merugikan (adverse selection),” ujarnya.

Sementara itu, laporan terpisah dari KPMG International Ltd. menunjukkan bahwa perusahaan asuransi tetap optimistis meski dibayangi risiko ekonomi dan iklim. Sekitar 82% CEO perusahaan asuransi menyatakan yakin akan pertumbuhan perusahaannya, naik dari 74% pada tahun sebelumnya, sementara 78% menyatakan optimis terhadap prospek sektor ini secara keseluruhan.

Namun, menurut Mehta, optimisme tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran akan keterbatasan operasional yang ada.

“Kita perlu memisahkan antara lapisan hype dan apa yang saya sebut sebagai lapisan infrastruktur,” ujarnya, seraya mencatat bahwa banyak perusahaan asuransi masih mengandalkan sistem yang usianya sudah puluhan tahun, sehingga memerlukan pembaruan besar-besaran sebelum AI bisa diterapkan secara efektif.

Igloo sendiri memproses sekitar 90 juta polis per bulan, melayani lebih dari 50 juta pelanggan di seluruh kawasan, kata Mehta.

KPMG menyebutkan AI tetap menjadi prioritas utama, dengan 73% CEO menempatkannya sebagai area investasi teratas, dan 67% berencana mengalokasikan 10% hingga 20% dari anggaran mereka untuk analitik, otomatisasi, serta AI generatif.

Keamanan siber tetap menjadi perhatian utama, dengan 83% eksekutif menyebut kejahatan siber sebagai ancaman terbesar.

Menurut Mehta, sistem yang lebih cepat tidak serta-merta meningkatkan risiko, seraya mencatat bahwa banyak insiden siber justru berasal dari rekayasa sosial (social engineering), bukan dari kecepatan sistem itu sendiri. Ia menambahkan, perusahaan sebaiknya fokus pada kualitas data dan sistem internal guna mendukung proses pengambilan keputusan.

“Meski kami tidak membangun foundation model sendiri, fokus kami ada pada data proprietary yang kami miliki, dan bagaimana kami memanfaatkannya untuk menghasilkan pengetahuan serta pengambilan keputusan setingkat enterprise,” ujarnya.

Follow the link s for more news on

Perang Iran tingkatkan risiko jangka panjang bagi keuntungan asuransi konstruksi Asia

Gangguan rantai pasok dan volatilitas energi berpotensi kerek premi lebih tinggi pada 2027.

Asuransi Asia Tenggara berisiko tergerus laba akibat sistem data yang lemah

CEO Igloo sebut infrastruktur usang batasi manfaat AI meski belanja teknologi terus naik.

Keluhan terhadap perusahaan asuransi Hong Kong naik empat tahun berturut-turut

Otoritas asuransi soroti celah dalam insentif, keterbukaan informasi, dan pengawasan.

Kerugian akibat perubahan iklim yang terus meningkat uji ketahanan jaring pengaman asuransi China

Perusahaan asuransi yang untung besar pun punya batas dalam mengalihkan risiko bencana, meski skala pasarnya besar.

'Christian Horner: Unfiltered' hadir di Singapura selama F1 Week

Mantan Team Principal Oracle Red Bull Racing ini akan berbagi cerita dalam sesi bincang eksklusif satu malam, membahas gaya kepemimpinan, budaya tim, hingga suka-duka berada di puncak Formula 1.

Perempuan kaya di Asia-Pasifik dorong perombakan perencanaan warisan

Pertumbuhan yang stabil dan keterlibatan sejak dini mengubah pendekatan advisory, dari sekadar transfer transaksional menjadi proses yang lebih menyeluruh.

Sun Life Filipina genjot tenaga penjualan dan bancassurance di bawah CEO baru

Perusahaan ini terus mendorong penetrasi asuransi di negara yang menganggap kematian dan uang sebagai topik tabu.

Wong Sze Keed bangun budaya yang mengutamakan manusia di AIA

"Kepemimpinan harus berpijak pada kejelasan, keberanian, dan kemanusiaan.

HDI Global incar pertumbuhan asuransi komersial dan siber di Jepang

Siber merupakan salah satu risiko yang paling cepat berkembang, dan Jepang masih memiliki ruang untuk tumbuh di pasar asuransi siber ini.

Shweta Swaroop dari Howden dorong transparansi data gaji di industri asuransi

Keterbukaan data yang jelas mendorong akuntabilitas dan perubahan nyata untuk menutup kesenjangan gender.