Perang Iran tingkatkan risiko jangka panjang bagi keuntungan asuransi konstruksi Asia | Asian Business Review
, APAC
940 views
/Mathieu Stern from Unsplash

Perang Iran tingkatkan risiko jangka panjang bagi keuntungan asuransi konstruksi Asia

Gangguan rantai pasok dan volatilitas energi berpotensi kerek premi lebih tinggi pada 2027.

Biaya asuransi untuk proyek konstruksi di Asia tengah menurun seiring persaingan yang kian ketat, namun perang di Timur Tengah menciptakan risiko yang berpotensi membalikkan tren tersebut pada akhir 2026 atau awal 2027, menurut para analis.

“Meski pasar memang sedang membaik dan ini menjadi waktu yang lebih baik bagi pembeli, tarif premi tidak jatuh sedrastis yang terjadi di sektor properti atau di sektor energi dan power yang lebih spesifik,” ujar Chris Bickerstaff, Asia Construction Leader di Marsh LLC, kepada Insurance Asia.

 

Selera perusahaan asuransi dan kapasitas underwriting meningkat sepanjang 2025, namun perang yang tengah berlangsung sudah mulai mengganggu rantai pasok dan menunda sejumlah keputusan investasi, menurut Marsh.

Bickerstaff mengatakan penetapan harga asuransi konstruksi di Asia membaik secara lebih bertahap karena pasar ini tetap tergolong spesialis, dengan jumlah lead insurer yang lebih sedikit dan disiplin underwriting yang lebih ketat dibanding lini asuransi komersial lainnya.

Cakupan perlindungan juga kian meluas seiring perusahaan asuransi berlomba memperebutkan bisnis yang terkait proyek infrastruktur besar, kecerdasan buatan, dan pusat data di seluruh Asia.

“Bagi banyak perusahaan asuransi maupun broker, konstruksi dipandang sebagai mesin pertumbuhan,” ujar Bickerstaff lewat sambungan telepon. “Kami melihat banyak investasi mengalir ke sektor konstruksi, mulai dari pengumuman perusahaan asuransi yang memperkuat tim konstruksinya, hingga yang kembali menggarap konstruksi setelah sempat keluar saat kondisi pasar sedang sulit (hard market).”

Research and Markets Ltd. memproyeksikan pasar asuransi proyek konstruksi akan tumbuh dari US$8,4 miliar pada 2025 menjadi US$8,9 miliar pada 2026, sebelum mencapai US$11 miliar pada 2030.

Meski begitu, perang AS-Israel terhadap Iran mulai mengubah profil risiko konstruksi secara global.

Vincent Banton, Head of Construction and Infrastructure for Asia di Aon Plc, mengatakan pasar konstruksi Asia Pasifik tetap sangat rentan terhadap dampak tidak langsung dari perang tersebut, meski sebagian besar proyek berada jauh dari zona konflik.

 

Menurutnya, volatilitas harga energi, gangguan pelayaran, keterlambatan logistik, serta ketidakpastian dalam pelaksanaan proyek kian mempengaruhi perhitungan risiko konstruksi.

Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama karena sebagian besar impor minyak dan gas alam cair (LNG) Asia melewati koridor tersebut, menurut laporan Oliver Wyman, LLC pada Maret lalu.

Konsultan tersebut mencatat harga minyak mentah Brent naik sekitar 25% antara akhir Februari hingga pertengahan Maret, sementara kontrak berjangka gas Eropa melonjak 56% dan harga bahan bakar jet melesat 58% hanya dalam dua minggu.

Sejumlah perusahaan pelayaran besar, termasuk A.P. Møller – Mærsk A/S, mengalihkan rute kapal mereka melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), yang memperpanjang waktu tempuh Asia-Eropa hingga 15 hari.

Bickerstaff mengatakan sejumlah risiko terbesar justru bersembunyi lebih dalam di rantai pasok konstruksi, di mana kontraktor kerap tidak memiliki visibilitas penuh atas pemasok lapis kedua maupun ketiga. “Klien sering diberi ilusi seolah punya banyak pilihan dalam rantai pasoknya,” tambahnya.

Marsh menggunakan platform penilaian rantai pasok bernama Marsh Sentrisk untuk memetakan eksposur semacam ini. Setelah meninjau jaringan pemasok salah satu kliennya, perusahaan menemukan bahwa 86% rantai pasok klien tersebut memiliki eksposur terhadap zona konflik dalam berbagai bentuk.

“Wawasan Aon terkait kredit dan rantai pasok menegaskan bahwa tekanan finansial di lapisan rantai nilai yang lebih dalam bisa muncul lebih awal, seiring kontraktor dan pemasok menanggung kenaikan biaya atau menghadapi tekanan arus kas,” ujar Banton dalam balasan tertulis atas pertanyaan yang diajukan.

Ia memperingatkan bahwa kenaikan biaya dan tekanan arus kas di lapisan rantai pasok yang lebih dalam dapat meningkatkan risiko counterparty, melemahkan ketersediaan tenaga kerja, serta memperlambat proyek-proyek konstruksi besar di seluruh kawasan.
 

Follow the link s for more news on

Sektor bioteknologi India perlu tingkatkan riset orisinal demi dorong inovasi

Innovation pipeline-nya telah tumbuh menjadi lebih dari 2.

CMUH patok harga robot perawat di bawah biaya perawat

Sistem yang dikembangkan rumah sakit ini dirancang untuk terintegrasi dengan alur kerja klinis.

Brand sportswear andalkan rantai pasok demi jaga margin

Aktivitas outdoor dan olahraga wanita diperkirakan menopang permintaan di kawasan ini.

IKEA Indonesia perdalam kemitraan pemasok lokal

Retailer ini bekerja sama dengan 18 pemasok Indonesia di tiga kategori produk.

Bagaimana celah asuransi siber dapat membuat kerusakan pada pabrik

Penghentian produksi bisa lebih merugikan dibanding pencurian data bagi operator industri.

Bencana beruntun ungkap celah asuransi di Filipina

Hanya 10 dari 51 perusahaan asuransi nonlife yang tergabung dalam pool risiko bencana.

Asuransi Jepang lepas kepemilikan saham korporasi usai kasus pelanggaran

Kelompok-kelompok besar berencana memangkas saham strategis hingga nol dalam enam hingga tujuh tahun ke depan.

DBS Indonesia luncurkan layanan portofolio SGD untuk nasabah kaya

Mandiri Investasi akan mengelola dana pada instrumen obligasi, saham, dan emas.

ExxonMobil perluas layanan predictive maintenance di Indonesia

Tujuh lokasi mereka kini menggabungkan lubrication management dengan analisis oli.

PGE bangun keandalan pembangkit geotermal sejak hari pertama proyek

Operator menggunakan data lapangan untuk meningkatkan kinerja jangka panjang.