Perusahaan tinjau ulang perlindungan kesehatan seiring biaya klaim yang terus naik
Perubahan rider MOH perketat cakupan dan naikkan eksposur co-payment mulai April 2026.
Kenaikan klaim medis swasta dan aturan polis yang lebih ketat memaksa perusahaan asuransi serta pemberi kerja di Singapura merancang ulang manfaat kesehatan, seiring inflasi medis yang terus melaju dan pekerja menghadapi biaya out-of-pocket yang lebih tinggi.
Kai Tze Yeoh, Head of Product Strategy and Healthcare Propositions for Singapore and Australia di Cigna Healthcare, mengatakan nilai dari perlindungan kesehatan internasional kini bergeser, tidak lagi hanya soal harga.
“Meski biaya kesehatan secara global cenderung makin konvergen, nilai terbesar dari sebuah global plan tidak lagi terletak semata pada keterjangkauan, tetapi juga pada fleksibilitas geografisnya,” ujarnya dalam balasan tertulis atas pertanyaan yang diajukan.
“Eksekutif masa kini tidak lagi memandang hidup mereka hanya dari kacamata satu negara,” katanya kepada Insurance Asia. “Mereka menginginkan plan yang bisa mengikuti mereka, dari kantor pusat di Singapura hingga hub regional, tanpa perlu underwriting ulang atau kehilangan kesinambungan perlindungan.”
Laporan Cigna pada April lalu menemukan bahwa 51% karyawan yang sering berpindah negara (globally mobile) mengaku keterlambatan layanan kesehatan memengaruhi keseimbangan hidup dan kerja mereka. Studi tersebut juga menunjukkan sekitar 80% responden mengalami stres akibat tekanan finansial, rasa terisolasi, dan rutinitas yang terganggu, sementara 73% menginginkan dukungan kesehatan yang lebih kuat sebelum relokasi.
Yeoh mengatakan tingkat pemanfaatan layanan yang lebih tinggi turut mendorong naiknya klaim, terutama seiring membaiknya diagnostik preventif dalam mendeteksi penyakit sejak dini.
“Keunggulan terbesar dari solusi kesehatan modern adalah kemampuannya mendeteksi kondisi kesehatan lebih awal,” ujarnya. “Karena itu, kami melihat insiden klaim yang lebih tinggi dari kondisi seperti gangguan gastrointestinal, cedera musculoskeletal, dan neoplasma.”
Ia menambahkan, kolonoskopi berbantuan kecerdasan buatan (AI) dan alat serupa kian meningkatkan deteksi kondisi tahap awal, yang dalam jangka pendek justru menaikkan klaim meski hasil kesehatan pasien membaik.
Singapura juga tengah memperketat desain asuransinya. Berdasarkan perubahan Ministry of Health (MOH) yang berlaku sejak 1 April, rider tidak lagi menanggung penuh deductible yang berkisar antara $1.170 (S$1.500) hingga $2.740 (S$3.500) per tahun.
Batas co-payment tahunan juga akan naik dari $2.340 (S$3.000) menjadi $4.690 (S$6.000). Sebagai kompensasinya, premi diperkirakan turun rata-rata sekitar 30%, atau sekitar $470 (S$600) per tahun bagi pemegang polis rumah sakit swasta.
Di tingkat regional, Kelvin Loh, Chief Healthcare Officer di AIA Group Ltd., mengatakan persoalan biaya yang lebih luas di Asia didorong oleh desain sistem sekaligus inefisiensi.
“Model fee-for-service sudah tidak lagi berkelanjutan,” ujarnya lewat sambungan telepon. “Ini memang model pembayaran tradisional di Asia, tapi sudah tidak lagi sustainable dan perlu diubah secara mendasar,” tambahnya, seraya mencatat bahwa model ini justru memberi imbalan pada volume aktivitas, bukan pada hasil kesehatan pasien.
Ia menyebut tes yang tidak perlu, pemeriksaan diagnostik berulang, dan rawat inap yang sebenarnya bisa dihindari terus menggelembungkan biaya.
Loh juga mengutip data yang menunjukkan hingga 60% operasi tulang belakang berpotensi tidak efisien atau tidak diperlukan.
Laporan Willis Towers Watson Public Ltd. Co. pada November 2025 memproyeksikan inflasi medis Singapura mencapai 16,9% pada 2026, terutama didorong oleh klaim healthcare swasta.
Yeoh mengatakan perusahaan asuransi merespons dengan memperketat proses tinjauan medis dan menyelaraskan keputusan dengan standar klinis global.
Loh menambahkan, perawatan yang terfragmentasi serta definisi medis yang tidak konsisten antar rumah sakit turut mempersulit pengendalian biaya dan manajemen klaim.
“Strategi healthcare AIA adalah menciptakan sistem di mana pasien, penyedia layanan, dan pembayar sama-sama diuntungkan,” ujarnya. “Sebagian besar akan kami capai dengan bekerja sama bersama mitra-mitra di ekosistem penyedia layanan kesehatan.”