Perusahaan asuransi perketat kontrol atas jalur pelayaran Hormuz
Jepang dan Korea Selatan hadapi eksposur lebih besar terhadap risiko energi Teluk.
Perusahaan asuransi kian memperketat kontrol atas pelayaran melalui Selat Hormuz, menerapkan persetujuan yang lebih ketat dan syarat war-risk yang semakin menentukan apakah kapal bisa berlayar sama sekali.
“Yang berubah bukan permintaannya, melainkan bagaimana risiko itu dinilai harganya, dikelola, dan dioperasionalkan dalam memenuhi permintaan tersebut,” ujar Oliver Miloschewsky, Head of Shipping for Asia di Aon Plc, kepada Insurance Asia.
Ia mengatakan perang di Iran kini telah menjadi kondisi operasional permanen bagi perusahaan pelayaran, perusahaan asuransi, dan pemilik kargo, bukan sekadar gangguan sementara.
Permintaan minyak mentah, gas alam cair (LNG), dan komoditas dry bulk di kawasan Asia Pasifik tetap kuat, namun kondisi pelayaran telah berubah secara signifikan.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah level sebelum krisis, dengan perusahaan asuransi terus menilai setiap pelayaran secara individual.
“Pemulihan sejumlah rute kapal dan resumption transit yang terbatas belum bisa dimaknai sebagai sinyal berarti bahwa kepercayaan pasar telah pulih,” ujar Miloschewsky dalam balasan tertulis atas pertanyaan yang diajukan.
Ia menambahkan bahwa perusahaan asuransi membutuhkan penurunan ancaman yang konsisten, kondisi keamanan yang lebih jelas, serta mitigasi risiko yang lebih kuat sebelum kepercayaan itu benar-benar kembali.
K&L Gates mengatakan lalu lintas kapal masih jauh di bawah jumlah ratusan kapal yang melintasi selat tersebut setiap harinya sebelum perang berlangsung.
“Pasar bersikap pragmatis—banyak pemilik kapal mainstream masih menghindari rute ini,” ujar firma hukum tersebut dalam keterangan tertulis. “Kepercayaan yang ada sifatnya masih bersyarat, bukan struktural.”
Jepang dan Korea Selatan tetap menjadi negara paling rentan di Asia karena ketergantungan mereka pada impor energi dari Teluk.
“Korea Selatan dan Jepang sangat rentan, dan hal ini tercermin dari bagaimana perusahaan energi besar dan pembeli milik negara menyusun skema charter serta membangun opsi rerouting,” ujar K&L Gates.
Pembeli asal Korea Selatan mulai menjajaki sumber energi alternatif, termasuk LNG dari AS dan pasokan dari Australia, meski pergeseran semacam ini membutuhkan waktu.
Perusahaan pelayaran turut menyesuaikan operasinya. Pemilik kapal menjadi lebih selektif dalam mengoperasikan armadanya, sementara charterer menuntut kontrak dan rute yang lebih fleksibel.
“Ada juga peningkatan signifikan pada skema back-to-back chartering dan durasi charter yang lebih pendek, seiring pemilik kapal maupun charterer berupaya membatasi eksposur ke depan di tengah pasar yang tidak menentu,” ujar K&L Gates.
Perencanaan pelayaran kini juga mencakup fleksibilitas rute yang lebih besar untuk menyesuaikan diri dengan kondisi asuransi yang terus berubah.
Gangguan di Hormuz turut menambah tekanan geopolitik yang lebih luas di kawasan Asia.
K&L Gates menyebut ketegangan terkait Taiwan sebagai risiko jangka menengah paling signifikan, memperingatkan bahwa eskalasi dapat mengganggu rantai pasok semikonduktor dan perdagangan kontainer di kawasan Pasifik.
Ketegangan Jepang-China juga secara bertahap mengubah arus perdagangan, seiring perusahaan-perusahaan Jepang mendiversifikasi sumber pasokan ke Asia Tenggara dan India.
“Pasar pelayaran saat ini tidak lagi sekadar bereaksi terhadap insiden geopolitik yang berdiri sendiri,” ujarnya.
Bagi perusahaan pelayaran, prioritas utama saat ini adalah persiapan. K&L Gates menyarankan agar operator meninjau ulang kontrak charter dan kargo, khususnya klausul terkait force majeure, war risk, dan route deviation, karena banyak ketentuan lama sudah tidak lagi relevan dengan kondisi risiko saat ini.