Persaingan telko Singapura tetap ketat pasca batalnya kesepakatan Simba-M1
Pasar kecilnya membuat sektor mobile dan broadband tetap dalam kondisi jenuh.
Pasar telekomunikasi Singapura tetap padat pascabatalnya rencana akuisisi M1 Ltd. senilai US$1,4 miliar oleh Simba Telecom Pte. Ltd., yang membuat tekanan terhadap operator di pasar yang sudah jenuh ini tetap berlanjut, menurut para analis.
“Konsolidasi seharusnya pada akhirnya terjadi di Singapura, kalau bukan Simba dan M1, mungkin bisa dalam bentuk lain,” kata Hussaini Saifee, analis riset ekuitas di Maybank Securities (Singapore) Pte. Ltd., kepada Singapore Business Review.
Keppel Ltd. dan Tuas Ltd. yang tercatat di bursa Australia, induk perusahaan Simba, mengumumkan pada 22 Mei bahwa [rencana akuisisi tersebut dibatalkan](https://sbr.com.sg/telecom-internet/news/keppel-tuas-call-off-14b-m1-simba-deal) setelah syarat-syarat regulasi tidak terpenuhi sebelum tenggat waktu.
Kesepakatan ini gagal setelah Infocomm Media Development Authority [menghentikan sementara peninjauan merger](https://sbr.com.sg/telecom-internet/news/imda-freezes-m1-simba-merger-review-over-alleged-spectrum-breach) dan membuka investigasi terhadap Simba atas dugaan penggunaan spektrum tanpa izin.
Saifee mengatakan ukuran pasar Singapura yang kecil membuat sektor mobile maupun fixed broadband sama-sama sangat jenuh.
Market Report Analytics dalam laporan Januari menyebutkan bahwa pasar telekomunikasi Singapura masih didominasi oleh empat operator: Singapore Telecommunications Ltd., StarHub Ltd., M1, dan Simba.
Tan Joo Seng, associate professor di Nanyang Business School, Nanyang Technological University, mengatakan gagalnya kesepakatan ini kembali memunculkan pertanyaan yang lebih luas soal apakah struktur pasar Singapura masih berkelanjutan secara ekonomi.
“Tekanan konsolidasi telekomunikasi secara global cenderung terus berlanjut karena faktor ekonomi semakin condong ke skala usaha yang besar,” ujarnya dalam jawaban tertulis.
Ia menambahkan bahwa M1 tetap bernilai strategis karena aset infrastruktur telekomunikasi sulit direplikasi, dengan operator ini memiliki spektrum, infrastruktur jaringan, klien korporat, dan basis pelanggan yang sudah mapan.
Saifee menambahkan bahwa konsolidasi berpotensi menekan biaya operasional dan belanja modal jaringan sebesar 20% hingga 30%.
Saifee dan Tan menyebut StarHub sebagai calon pembeli potensial di masa depan, dengan Tan menyoroti kolaborasi infrastruktur yang sudah ada serta potensi sinergi.
Kelompok telekomunikasi regional dan investor berbasis infrastruktur juga berpotensi menjajaki peluang ini, meski Tan mencatat bahwa kematangan pasar Singapura bisa membatasi prospek pertumbuhan yang mudah dicapai.
“Tantangannya bukan sekadar mencari siapa yang bisa membeli M1, tetapi siapa yang bisa membuat aspek ekonomi dan dinamika regulasi berjalan bersamaan,” tambahnya.