Peretasan empat telko Singapura buktikan keamanan siber perlu lebih dari sekadar perimeter | Asian Business Review
, Singapore
1757 views
Photo by Tima Miroshnichenko via Pexels

Peretasan empat telko Singapura buktikan keamanan siber perlu lebih dari sekadar perimeter

Keamanan perangkat dan cloud menjadi titik lemah baru.

Serangan siber terhadap empat operator telekomunikasi utama Singapura pada 2025 menegaskan bagaimana ancaman digital telah bergeser melampaui pertahanan perimeter tradisional, memaksa penyedia infrastruktur kritis untuk mengamankan sistem secara menyeluruh dari ujung ke ujung.

Insiden ini menunjukkan bagaimana operator yang sudah matang secara keamanan pun tetap rentan begitu penyerang berhasil menembus pertahanan awal.

“Seiring organisasi berekspansi ke Internet of Things (IoT), 5G, dan layanan berbasis cloud, keamanan harus diperluas melampaui perimeter jaringan,” kata Syed Natashrul, Kepala Asia-Pasifik di Wireless Logic Group Ltd., dalam jawaban tertulis kepada Singapore Business Review.

Ia menyebut autentikasi perangkat, manajemen identitas berbasis sertifikat, dan perlindungan data cloud sebagai titik lemah yang terus berkembang.

Pada Februari, Menteri Pembangunan Digital dan Informasi Josephine Teo mengungkapkan bahwa M1 Ltd., Simba Telecom Pte. Ltd., Singapore Telecommunications Ltd., dan StarHub Ltd. diretas dalam kampanye terkoordinasi yang terkait dengan kelompok advanced persistent threat (APT) UNC3886.

Otoritas menyatakan bahwa penyerang memanfaatkan eksploitasi zero-day untuk melewati firewall perimeter dan memperoleh akses, lalu mengeksfiltrasi sejumlah data teknis terkait jaringan dalam skala terbatas. Sistem inti seperti jaringan 5G tidak dibobol, dan tidak ada data pelanggan sensitif yang diakses.

Intrusi bergaya APT termasuk salah satu jenis serangan paling umum di negara-kota ini, yang sering didahului oleh phishing atau pencurian kredensial pada titik masuk, menurut Laporan Threat Intelligence Singapura 2025 dari ThreatBook Pte. Ltd.

UNC3886, yang pertama kali teridentifikasi secara publik pada pertengahan 2025, memiliki rekam jejak spionase siber yang menyasar sektor telekomunikasi, pertahanan, dan infrastruktur kritis di Amerika Serikat dan Asia.

Robert Pizzari, Wakil Presiden Grup Asia di Splunk Services Singapore Pte. Ltd., mengatakan serangan ini menggambarkan bagaimana pelaku ancaman semakin menghindari serangan frontal yang mencolok terhadap pertahanan eksternal.

“Penyerang tingkat lanjut semakin sering membobol komponen jaringan seperti router atau sistem autentikasi, di mana mereka bisa diam-diam mengamati aktivitas dan tidak terdeteksi dalam waktu lama,” ujarnya dalam jawaban tertulis.

Akibatnya, prioritas keamanan pun bergeser ke arah pemantauan berkelanjutan dan visibilitas internal, alih-alih hanya mengandalkan kontrol perimeter yang bersifat sekali jalan.

Natashrul menyebut organisasi memerlukan perlindungan berlapis, seperti analitik perilaku dan deteksi anomali, untuk mengenali aktivitas mencurigakan yang kerap luput dari alat keamanan konvensional.

Para eksekutif juga didorong untuk mengubah cara mengevaluasi investasi keamanan siber. Alih-alih hanya berfokus pada biaya awal, perusahaan sebaiknya menilai total biaya kepemilikan (total cost of ownership), dengan mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang, ketahanan sistem, dan kepatuhan terhadap standar global.

Pizzari menambahkan bahwa operator telekomunikasi memerlukan deteksi yang lebih kuat melalui analitik berbasis kecerdasan buatan, integrasi yang lebih erat antara tim keamanan, teknologi informasi, dan operasional, serta respons yang lebih cepat melalui otomatisasi.

Wai Kit Cheah, Chief Information Security Officer sekaligus pemimpin ekosistem terkoneksi untuk kawasan Asia-Pasifik di Lumen Technologies Singapore Pte. Ltd., mengatakan perluasan kewajiban infrastruktur kritis dan koordinasi yang lebih dalam antara sektor publik dan swasta akan menjadi kunci menjaga kepercayaan seiring modernisasi jaringan.

“Pertanyaannya bukan apakah Singapura bisa mencegah setiap intrusi di masa depan, melainkan apakah negara ini bisa secara konsisten memperpendek waktu bertahan penyerang di dalam sistem, membatasi pergerakan lateral, dan menjaga kepercayaan publik di tengah tekanan yang berkelanjutan,” katanya dalam jawaban tertulis.

Follow the link for more news on

Rumah bekas bersubsidi tarik minat pembeli apartemen swasta

Kebijakan ini mendongkrak turnover dengan mempercepat realisasi permintaan, bukan menaikkan volume dalam jangka panjang.

Perang Timur Tengah ungkap risiko arus kas bagi UKM Singapura

CEO UOI Andrew Lim mengatakan banyak bisnis masih kurang terproteksi di tengah biaya operasional yang terus naik.

Kerugian akibat fraud ungkap ketertinggalan sistem pembayaran asuransi Hong Kong

Cek fisik dan proses manual masih bertahan meski biaya fraud capai 5% dari pendapatan.

Asuransi Asia Pasifik lirik utang pasar berkembang demi kejar imbal hasil

Penerbitan investment-grade kini kuasai lebih dari separuh pasar.

Perusahaan asuransi perketat kontrol atas jalur pelayaran Hormuz

Jepang dan Korea Selatan hadapi eksposur lebih besar terhadap risiko energi Teluk.

Perusahaan tinjau ulang perlindungan kesehatan seiring biaya klaim yang terus naik

Perubahan rider MOH perketat cakupan dan naikkan eksposur co-payment mulai April 2026.

Perang Iran tingkatkan risiko jangka panjang bagi keuntungan asuransi konstruksi Asia

Gangguan rantai pasok dan volatilitas energi berpotensi kerek premi lebih tinggi pada 2027.

Asuransi Asia Tenggara berisiko tergerus laba akibat sistem data yang lemah

CEO Igloo sebut infrastruktur usang batasi manfaat AI meski belanja teknologi terus naik.

Keluhan terhadap perusahaan asuransi Hong Kong naik empat tahun berturut-turut

Otoritas asuransi soroti celah dalam insentif, keterbukaan informasi, dan pengawasan.