Perusahaan asuransi di Asia-Pasifik mulai menargetkan Gen Z | Asian Business Review
, APAC
3226 views
/Foodphotoalex from Envato

Perusahaan asuransi di Asia-Pasifik mulai menargetkan Gen Z

Generasi tersebut dipandang kurang memahami produk asuransi dibandingkan Milenial.

Perusahaan asuransi di kawasan Asia-Pasifik sebaiknya mulai memasuki pasar asuransi untuk Gen Z. Ini karena generasi di usia tersebut  telah beranjak dewasa dan menghadapi tanggung jawab serta tekanan finansial, jika ingin memiliki sumber premi yang stabil, menurut para analis.

“Ini tentang bagaimana benar-benar berinteraksi di media digital, media sosial, dan bagaimana menciptakan bahasa serta narasi yang sesuai dengan populasi tersebut,” kata Bernhard Kotanko, mitra senior di McKinsey & Co., dalam wawancara Zoom dengan Insurance Asia. “Saya rasa kita belum melihat hal itu terjadi.”

/Bernhard Kotanko, a senior partner at McKinsey & Co.

Meskipun masih berada di awal karier, Gen Z yang lahir antara 1997 hingga 2012menunjukkan ambisi yang kuat dan kepercayaan diri tinggi dalam literasi keuangan. Namun, kesadaran mereka terhadap produk asuransi tetap lebih rendah dibandingkan Milenial, menurut laporan Peak Re pada September.

Survei tersebut memperkirakan Gen Z akan mencakup setidaknya 25% dari populasi Asia-Pasifik pada 2025, dengan populasi Gen Z di Cina saja diperkirakan mencapai 233 juta jiwa dan menyumbang 13% dari pengeluaran rumah tangga.

Dengan populasi lansia yang diperkirakan akan berlipat ganda pada 2050, perusahaan asuransi semakin sulit untuk terhubung dengan kebutuhan generasi berikutnya.

“Beberapa perusahaan mulai lebih baik berupaya dalam hal ini dan benar-benar berusaha melibatkan keluarga muda,” kata Kotanko. “Kita perlu menciptakan bahasa dan solusi yang relevan bagi kelompok usia tersebut.”

“Rumah tangga pribadi harus mengandalkan tabungan mereka untuk membiayai masa pensiun, dan ini membawa serangkaian risiko baru yaitu perawatan jangka panjang, risiko kesehatan, dan perencanaan warisan,” tambahnya.

Tantangan utama terletak pada pasar yang selama ini berfokus pada akumulasi kekayaan. “Asia hingga saat ini sangat berorientasi pada akumulasi kekayaan,” kata Kotanko, seraya menambahkan bahwa pergeseran ini harus segera terjadi.

Martin Wong, CEO regional di Grandtag Financial Consultancy & Insurance Brokers Ltd., mengatakan bahwa perusahaan asuransi juga harus menargetkan individu muda dengan kekayaan tinggi dalam beberapa tahun mendatang, mengingat 30% dari mereka berada di kawasan Asia-Pasifik.

/Martin Wong, regional CEO at Grandtag Financial Consultancy & Insurance Brokers Ltd.

Meskipun masih berada di awal karier, Gen Z yang lahir antara 1997 hingga 2012menunjukkan ambisi yang kuat dan kepercayaan diri tinggi dalam literasi keuangan. Namun, kesadaran mereka terhadap produk asuransi tetap lebih rendah dibandingkan Milenial, menurut laporan Peak Re pada September.

Survei tersebut memperkirakan Gen Z akan mencakup setidaknya 25% dari populasi Asia-Pasifik pada 2025, dengan populasi Gen Z di Cina saja diperkirakan mencapai 233 juta jiwa dan menyumbang 13% dari pengeluaran rumah tangga.

Dengan populasi lansia yang diperkirakan akan berlipat ganda pada 2050, perusahaan asuransi semakin sulit untuk terhubung dengan kebutuhan generasi berikutnya.

“Beberapa perusahaan mulai lebih baik berupaya dalam hal ini dan benar-benar berusaha melibatkan keluarga muda,” kata Kotanko. “Kita perlu menciptakan bahasa dan solusi yang relevan bagi kelompok usia tersebut.”

“Rumah tangga pribadi harus mengandalkan tabungan mereka untuk membiayai masa pensiun, dan ini membawa serangkaian risiko baru yaitu perawatan jangka panjang, risiko kesehatan, dan perencanaan warisan,” tambahnya.

Tantangan utama terletak pada pasar yang selama ini berfokus pada akumulasi kekayaan. “Asia hingga saat ini sangat berorientasi pada akumulasi kekayaan,” kata Kotanko, seraya menambahkan bahwa pergeseran ini harus segera terjadi.

Martin Wong, CEO regional di Grandtag Financial Consultancy & Insurance Brokers Ltd., mengatakan bahwa perusahaan asuransi juga harus menargetkan individu muda dengan kekayaan tinggi dalam beberapa tahun mendatang, mengingat 30% dari mereka berada di kawasan Asia-Pasifik.

Follow the link s for more news on

Hong Kong perkuat fokus pada pencegahan penyakit

Langkah ini memberikan hasil positif bagi sistem kesehatan kota tersebut.

Asia Tenggara hadapi ketimpangan akses urologi seiring permintaan melampaui ketersediaan spesialis

Beberapa rumah sakit kekurangan perawatan dan bahan habis pakai untuk prosedur tingkat lanjut.

Asian Hospital opens dedicated hernia clinic

Klinik ini menyasar kesenjangan penanganan di Metro Manila, di mana jumlah kasus jauh melampaui kapasitas bedah yang tersedia.

Hong Kong dorong transparansi harga, uji klinis, dan kapasitas bioteknologi

Enam dari 10 pasien menunda pengobatan akibat kecemasan soal biaya.

Rumah Sakit rombak layanan seiring pasien beralih ke aplikasi kesehatan

Tujuh dari delapan orang dewasa mencari informasi kesehatan sebelum menemui dokter.

OUE Healthcare buka sleep lab swasta pertama di Singapura

Sekitar 30% orang dewasa mengalami sleep apnea obstruktif.

AkzoNobel percepat transformasi digital dan keberlanjutan untuk capai target 2030

Perusahaan menargetkan pengurangan emisi karbon hingga 50% di seluruh rantai nilai pada 2030.

Indonesia berupaya membantu pabrik keluar dari ‘pilot trap’ teknologi

Pemerintah ingin memastikan transformasi digital di sektor manufaktur dapat berjalan berkelanjutan.

Mazari bidik pembeli untuk tinggal jangka panjang seiring pasar Bali kian matang

Pengembang tersebut menyebut permintaan bergeser melampaui investor sewa.

Lyvin Properties bertaruh pada kemewahan berkepadatan rendah di Bukit Selatan, Bali

Ruang, privasi, dan kualitas lingkungan kini menjadi pendorong utama permintaan.