Indonesia hadapi kesenjangan dalam evakuasi medis udara | Asian Business Review
, Indonesia
8727 views
CEO Flying Doctor Indonesia, Vika Cokronegoro

Indonesia hadapi kesenjangan dalam evakuasi medis udara

Flying Doctor Indonesia hanya mampu melayani kurang dari 12% dari sekitar 600 permintaan evakuasi tiap tahunnya.

Permintaan evakuasi medis udara di Indonesia terus melampaui kapasitas yang tersedia, membuat banyak pasien harus menunggu transfer darurat.

Flying Doctor Indonesia, yang dioperasikan PT Air Ambulance Indonesia, hanya mencatat 50–70 penerbangan evakuasi per tahun, sementara jumlah permintaan mencapai 600. CEO Vika Cokronegoro mengatakan keterbatasan armada pesawat masih menjadi hambatan terbesar.

“Permintaan terus meningkat dari tahun ke tahun, tetapi kendalanya ada pada jumlah pesawat yang terbatas,” ujarnya kepada Healthcare Asia. “Ketika pesawat masuk perawatan atau kru sudah mencapai batas jam terbang, pasien pasti harus menunggu.”

Rumah sakit spesialis terkonsentrasi di kota besar, sehingga pasien di daerah terpencil bergantung pada transfer udara. Indonesia juga belum memiliki pusat komando medis nasional, yang membuat akses data medis cepat menjadi sulit.

“Mempersiapkan ambulans udara berbeda dengan rumah sakit yang bisa langsung merespons dengan ‘code blue’,” kata Vika. “Semuanya harus disiapkan dari awal—ventilator, pompa infus, perangkat monitoring—kalau tidak, risikonya sangat tinggi.”

Ambulans di daerah pedesaan sering kali hanya membawa peralatan dasar, sehingga memperlambat transfer ke bandara. Perjalanan dari desa bisa memakan waktu hingga empat jam, sementara bandara kecil yang tutup pada malam hari menyebabkan keterlambatan lebih lanjut.

Setiap misi dimulai dengan penilaian apakah pasien bisa terbang secara komersial atau memerlukan ambulans udara khusus. Tim operasi kemudian mengurus izin, menyiapkan dokumen, dan memastikan rumah sakit rujukan siap menerima pasien.

“Surat penerimaan dari rumah sakit sangat penting,” ujar Vika. “Kami tidak bisa tiba di rumah sakit lalu mendapati mereka belum siap menerima pasien. Itu bisa sangat berbahaya.”

Flying Doctor Indonesia dapat menangani dua hingga tiga penerbangan per hari jika pesawat tersedia, meski banyak permintaan tidak terlayani karena biaya, kondisi pasien yang memburuk, atau keterbatasan armada.

Salah satu kasus menonjol adalah bayi berusia sembilan bulan yang diterbangkan ke India untuk transplantasi hati. “Keluarga hanya bisa mengumpulkan US$12.000 (Rp200 juta), sementara di Indonesia biayanya bisa mencapai US$72.000 (Rp1,2 miliar). Dengan dukungan rumah sakit mitra di India dan yayasan donor, bayi itu akhirnya bisa menjalani operasi,” kata Vika.

Wisatawan dan perusahaan juga menjadi klien tetap. Evakuasi darurat di Gunung Rinjani telah menyelamatkan nyawa, sementara perusahaan tambang dan minyak menggunakan layanan ini karena lokasi mereka jauh dari rumah sakit.

Untuk menjaga keselamatan, Flying Doctor Indonesia melengkapi pesawat dengan ICU portabel, ventilator, dan perangkat monitoring. Konsultasi gratis juga diberikan untuk membantu pasien memilih rumah sakit dan dokter yang tepat.

Integrasi telemedisin juga direncanakan untuk mempercepat triase dan rujukan.

“Target kami adalah memperluas jaringan, meningkatkan kompetensi tim medis, dan membangun sistem koordinasi digital yang lebih cepat,” kata Vika. “Indonesia sangat luas, dan tanpa sistem darurat kesehatan nasional, akses akan tetap terbatas.”

Peritel India beralih ke strategi hiperlokal seiring ekspansi berbasis kota mulai kehilangan relevansi

Peritel memanfaatkan data pasar mikro untuk menentukan lokasi pembukaan toko.

Siam Piwat terapkan standar ramah lingkungan bagi seluruh tenant mal di Bangkok

Permintaan pascapandemi mendorong pergeseran menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Nando's andalkan desain gerai untuk menangi persaingan lokasi drive-thru

Jaringan restoran ini membidik lokasi premium di luar klaster QSR tradisional.

Restoran ramah hewan peliharaan berpotensi dongkrak lalu lintas mal di pusat kota Hong Kong

Belanja akhir pekan diperkirakan lebih menguntungkan mal di pusat kota dibandingkan pusat perbelanjaan di pinggiran.

Uniqlo buka gerai interaktif koleksi pakaian untuk cuaca panas di Singapura

Pengunjung dapat merasakan langsung fungsi kain melalui instalasi interaktif.

Pelonggaran sewa tarik kembali peritel ke jalanan Hong Kong

Toko di lantai dasar menawarkan visibilitas lebih tinggi bagi peritel makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kepergian Deliveroo picu duopoli pengiriman makanan di Singapura

Konsolidasi pasar diperkirakan mendorong kenaikan biaya pengiriman dan komisi merchant seiring dominasi Grab dan Foodpanda.

Merek-Merek lepaskan 20 juta pembeli demi konsumen kelas atas Asia

Sekitar 20 juta konsumen berhenti membeli produk mewah tahun lalu.

AI merambah toko kelontong di Filipina

Penerapan yang lebih luas berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga US$48 miliar pada 2030.

Hong Kong perkuat fokus pada pencegahan penyakit

Langkah ini memberikan hasil positif bagi sistem kesehatan kota tersebut.