Konsep ruang terbuka hijau membuat The Breeze menjadi mal paling aman di era new normal | Asian Business Review
, Indonesia
1922 views

Konsep ruang terbuka hijau membuat The Breeze menjadi mal paling aman di era new normal

Karena konsepnya, tingkat okupansi pengunjung cepat kembali ke 80% ketika pembatasan mulai dilonggarkan.

Ketika pemerintah Indonesia memberlakukan pembatasan ketat dalam dua tahun terakhir, mal adalah tempat pertama yang paling terkena dampaknya, dengan pengunjung mal merasa khawatir untuk berada di dalam ruang tertutup. Karena itu, rata-rata tingkat  okupansi pengunjung mal turun 50% pada  2020, dan 60% pada  2021. Namun bagi The Breeze dari Sinar Mas Land, pemulihan tingkat pengunjung relatif lebih cepat. Dengan konsep Mall Without Walls, rata-rata tingkat okupansi pengunjung The Breeze dengan cepat kembali ke 80% ketika pemerintah mulai melonggarkan pembatasan dan mengizinkan pusat perbelanjaan buka.

“Dengan konsep open space yang ditawarkan The Breeze, traffic pengunjung kembali lebih cepat dibandingkan mall indoor pada umumnya,” ujar Yani C. Dewi,  Mall Division Head Sinar Mas Land dalam wawancara eksklusif dengan Real Estate Asia. “Ini semacam blessing in disguise karena ketika pandemi melanda, orang mencari ruang terbuka untuk beraktivitas.”

The Breeze terletak di kawasan BSD Green Office Park, Tangerang. Luas total BSD Green Office Park adalah 25 hektar, di mana 13,5 hektar merupakan lahan The Breeze.

The Breeze menggunakan konsep 'Mall without Walls' di mana pengunjung dapat menyantap makanan sambil menikmati pemandangan langsung pepohonan, tanaman hijau, danau buatan dan sungai Cisadane. “Layout The Breeze bisa dibilang terdiri dari 70% ruang terbuka hijau, 20% retail F&B, dan 10% hiburan termasuk arena bowling, bioskop, dan gym,” kata Yani.

Mengintip ke dalam The Breeze

Ketika pengunjung datang, mereka bisa masuk dari mana saja karena kawasan The Breeze berkonsep terbuka tanpa ada sekat dan dinding. Jadi, pengunjung bisa langsung mendatangi tenant yang mereka tuju. Saat ini terdapat 90 tenant yang terdiri dari tenant F&B, Entertainment & Lifestyle, Sports dan Supermarket. Tenant tersebut menempati bangunan – bangunan yang bersifat stand alone dengan ukuran yang bervariasi dari stand island yang kecil sampai dengan toko berukuran besar.

Ada juga Kumulo, sebuah area creative compound di ruang terbuka yang terdiri dari 25 toko kecil (microsite) dengan desain arsitektur unik di area dengan luas kurang lebih 4.000 meter persegi yang menjual berbagai produk lokal yang telah dikurasi. Pada Minggu atau hari libur, Kumulo kerap mengadakan event Sunday Market dengan konsep pop-up store.

Pengunjung juga bisa duduk di area atrium The Breeze. Mereka tidak perlu khawatir terkena panas atau hujan karena terdapat kanopi besar yang melindungi pengunjung dari cuaca. Pengunjung yang membawa anak-anak juga bisa membiarkan mereka bergerak bebas, memberi makan ikan-ikan di kolam di dalam mal, dan membawa hewan peliharaan.

The Breeze tidak menyediakan lift, juga tidak memiliki gedung bertingkat seperti mal pada umumnya, melainkan ruangan yang luas di mana pengunjung bisa leluasa bergerak, menikmati udara dengan leluasa dan menikmati belanja di luar ruangan.

“Konsep yang kami buat di The Breeze berawal dari keinginan manajemen untuk membuat sesuatu yang berbeda. Kami melihat mal tidak hanya memiliki konsep yang lengkap untuk keluarga tetapi juga untuk lifestyle dan entertainment. Ketika kami mulai membangun The Breeze, kami melihat kebanyakan mal menggunakan konsep indoor, oleh karena itu kami ingin menerapkan konsep ruang terbuka yang mengambil benchmark dari beberapa mal di luar negeri seperti pusat perbelanjaan The Groove di LA, dan Clarke Quay di Singapura," kata Yani menjelaskan.

The Breeze mulai beroperasi pada 2013 dan dirancang oleh JERDE, arsitek asal AS yang memiliki portofolio membangun konsep ritel terbuka. Seperti yang ditegaskan Yani sebelumnya, ruang hijau merupakan elemen penting karena sebagian besar ruang The Breeze adalah ruang terbuka hijau dengan berbagai pepohonan dan tanaman. Berbagai tanaman di The Breeze mendapatkan perawatan berkala di mana pohon-pohon yang kondisinya sudah tidak baik akan diganti.

Gaya hidup sehat dan berkelanjutan

Selain konsepnya yang unik, layanan yang ditawarkan The Breeze juga menjadi keunggulan mal ini. Pengembang The Breeze, Sinar Mas Land, menerapkan smart city dalam mempromosikan gaya hidup berkelanjutan di kawasan mal dan sekitarnya. Pengunjung yang ingin mengunjungi The Breeze dapat menggunakan mobil listrik self-driving yang mulai beroperasi sebagai pilot project tahun ini. Mobil listrik tersebut berkapasitas 33 kWh, mampu bertahan selama 9 jam, dan mampu menampung hingga 14 orang. Saat ini mobil listrik tersebut baru beroperasi di kawasan BSD Green Office Park yang berada di kawasan yang sama dengan The Breeze. 

Pengelola Breeze juga menyediakan charging point bagi pengunjung mal yang berkendara menggunakan kendaraan listrik. Mobilitas hijau kini dapat dinikmati oleh lebih banyak pengunjung dengan adanya bus listrik BSD Link, layanan antar-jemput gratis yang menghubungkan The Breeze ke landmark lain di BSD City.

Di sisi teknologi, pengelola mal menerapkan sistem parkir manless di mana pengunjung dapat membeli tiket parkir sendiri tanpa ada penjagaan. Saat ini, rata-rata traffic  pengunjung The Breeze adalah 3.000-3.500 mobil di weekday, dan 4.500 mobil di weekend.

Untuk mempromosikan gaya hidup yang berkelanjutan, manajemen The Breeze juga menangkap tren gaya hidup sehat yang sedang berkembang. Lokasi The Breeze yang berada di Green Belt BSD, yang terhubung dengan beberapa area di BSD,  dapat dijadikan jalur jogging atau bersepeda.

 Yani melihat ini sebagai kekuatan The Breeze. “Awalnya kami melihat mal sebagai tempat berkumpul, meeting point. Bagaimana kalau sekarang? Sejak pandemi, masyarakat sudah terbiasa dengan konsep berkumpul di ruang terbuka dan memulai gaya hidup sehat seperti berolahraga, dan menjadikan The Breeze sebagai destinasi mereka," katanya.

Jadi, mulai dari berbelanja, menikmati pemandangan hingga berolahraga, The Breeze memiliki semuanya.

 

Investasi energi terbarukan Asia-Pasifik melaju lebih cepat dari efisiensi pengadaan

Pengembang soroti hambatan jaringan, kontrak, dan dokumentasi.

Batu bara Jepang belum mampu gantikan pasokan LNG dari Selat Hormuz

Perusahaan utilitas batasi pembelian batu bara di tengah ketidakpastian durasi gangguan pasokan.

Guncangan harga minyak berdampak ke listrik gas Asia, meski dengan jeda

Kesepakatan LNG take-or-pay batasi kemampuan operator menyesuaikan produksi.

Pajak karbon dan impor energi hijau tingkatkan biaya serta risiko kepatuhan

Fokus sempit pada pajak semata mengabaikan gambaran ekonomi yang lebih utuh.

China pimpin investasi fusi energi di Asia dengan dana capai US$5 miliar

China Fusion Energy Corporation berperan sebagai pusat nasional senilai US$2,1 miliar untuk proyek-proyek "matahari buatan".

Inverter grid-forming ambil alih kendali untuk stabilkan jaringan listrik Asia

Pertumbuhan konsumsi listrik kini melaju lebih cepat daripada kapasitas jaringan yang menyalurkannya.

Peritel India beralih ke strategi hiperlokal seiring ekspansi berbasis kota mulai kehilangan relevansi

Peritel memanfaatkan data pasar mikro untuk menentukan lokasi pembukaan toko.

Siam Piwat terapkan standar ramah lingkungan bagi seluruh tenant mal di Bangkok

Permintaan pascapandemi mendorong pergeseran menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Nando's andalkan desain gerai untuk menangi persaingan lokasi drive-thru

Jaringan restoran ini membidik lokasi premium di luar klaster QSR tradisional.

Restoran ramah hewan peliharaan berpotensi dongkrak lalu lintas mal di pusat kota Hong Kong

Belanja akhir pekan diperkirakan lebih menguntungkan mal di pusat kota dibandingkan pusat perbelanjaan di pinggiran.