Pajak karbon dan impor energi hijau tingkatkan biaya serta risiko kepatuhan | Asian Business Review
, Singapore
1043 views
Photo by Zac Wolff via Unsplash

Pajak karbon dan impor energi hijau tingkatkan biaya serta risiko kepatuhan

Fokus sempit pada pajak semata mengabaikan gambaran ekonomi yang lebih utuh.

Pajak karbon Singapura serta rencana mengimpor 6 gigawatt (GW) listrik rendah karbon hingga 2035 tengah mengerek biaya pembangkit berbahan bakar intensif karbon, sekaligus meningkatkan daya tarik relatif energi bersih. Namun, perusahaan tetap perlu mempertimbangkan rangkaian risiko yang lebih luas, tidak hanya sebatas harga bahan bakar dan karbon.

"Para eksekutif kerap terlalu berfokus pada pajak karbon sebagai faktor biaya penentu, padahal ini mengabaikan gambaran ekonomi secara menyeluruh," ujar Mark Addy, Partner, Energy & Natural Resources and Telecommunications, Media & Technology, Tax, KPMG in Singapore, kepada Asian Power.

Meski energi terbarukan dapat menekan biaya operasional dalam jangka panjang, belanja awal untuk pengembangan, instalasi, dan integrasi jaringan tetap tinggi.

Biayanya bahkan lebih besar lagi di sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi (hard-to-abate), di mana biaya penangkapan karbon (carbon capture) bisa melampaui tarif pajak karbon yang berlaku.

Anggaran 2026 Singapura memproyeksikan pajak karbon dapat stabil di kisaran US$38,99 (SGD50) per ton karbon dioksida pada 2030, memberi acuan perencanaan yang lebih jelas bagi perusahaan. Sementara itu, gas menghadapi tekanan pada harga karbon US$38,99 (SGD50) hingga US$62,39 (SGD80) per ton, namun tetap kompetitif.

"Pembangkit listrik tenaga gas siklus gabungan (combined-cycle gas turbine) modern telah mencatat peningkatan efisiensi yang signifikan," ujar Addy dalam jawaban tertulis melalui email, merujuk pada perbaikan output per unit bahan bakar.

Lim Wen Bin, Partner, Infrastructure Advisory, KPMG in Singapore, mengatakan efisiensi tersebut dapat mengimbangi biaya sekitar US$1,56 (SGD2) hingga US$2,34 (SGD3) per megawatt-jam pada tarif pajak karbon sekitar US$45 per ton — meski sebagian besar penghematan berasal dari efisiensi bahan bakar, bukan dari pengurangan emisi.

Selain faktor bahan bakar dan karbon, perusahaan yang mempertimbangkan impor energi hijau juga perlu memperhitungkan eksposur nilai tukar valuta asing, risiko kredit pihak lawan (counterparty), biaya penyeimbangan (balancing charges), biaya daya cadangan, serta potensi gangguan pasokan, ujarnya dalam email terpisah.

Masalah keandalan pasokan dapat meningkatkan biaya pengadaan darurat dan menunda operasional. Ketidakpastian regulasi juga tetap menjadi perhatian utama.

"Risiko paling signifikan justru berada di celah-celah yang belum dituntaskan oleh para pembuat kebijakan," ujar Maria Tan Pedersen, Partner di Dechert LLP, dalam jawaban tertulis melalui email.
Kerangka kerja regional untuk sertifikat energi terbarukan lintas batas (cross-border renewable energy certificates), yang tengah dikembangkan oleh sejumlah lembaga Singapura bersama I-TRACK Foundation, disebutnya masih belum rampung — sehingga menimbulkan risiko klaim ganda atas satu unit energi hijau yang sama.

Aturan pengungkapan (disclosure) menambah lapisan tantangan lain. Rezim pelaporan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) Singapura mewajibkan verifikasi berkelanjutan atas sertifikasi pemasok, sementara perusahaan dengan eksposur ke Eropa harus mematuhi standar pelaporan iklim yang lebih ketat.

Kondisi pembiayaan pun turut bergeser. Sejumlah pemberi pinjaman lokal seperti DBS Bank Ltd., Oversea-Chinese Banking Corp. Ltd., dan United Overseas Bank Ltd. kini semakin sering mensyaratkan rencana transisi (transition plan) untuk proyek-proyek terkait gas, kata Pedersen.
Singapura telah menandatangani kesepakatan impor bersyarat dengan Kamboja, Indonesia, dan Australia guna memenuhi target 6 GW-nya.

Seiring turunnya biaya energi terbarukan dan menyempitnya premi sertifikat energi terbarukan, Lim menyebut impor energi hijau berpotensi menjadi strategi penghematan biaya sekaligus manajemen risiko sekaligus.

"Ketika premi sertifikat energi terbarukan menurun, dibarengi rantai pasok energi terbarukan yang stabil, perusahaan akan meraih manfaat ganda: biaya efektif yang lebih rendah serta kinerja keberlanjutan yang lebih baik," tambahnya.

Pajak karbon dan impor energi hijau tingkatkan biaya serta risiko kepatuhan

Fokus sempit pada pajak semata mengabaikan gambaran ekonomi yang lebih utuh.

China pimpin investasi fusi energi di Asia dengan dana capai US$5 miliar

China Fusion Energy Corporation berperan sebagai pusat nasional senilai US$2,1 miliar untuk proyek-proyek "matahari buatan".

Inverter grid-forming ambil alih kendali untuk stabilkan jaringan listrik Asia

Pertumbuhan konsumsi listrik kini melaju lebih cepat daripada kapasitas jaringan yang menyalurkannya.

Peritel India beralih ke strategi hiperlokal seiring ekspansi berbasis kota mulai kehilangan relevansi

Peritel memanfaatkan data pasar mikro untuk menentukan lokasi pembukaan toko.

Siam Piwat terapkan standar ramah lingkungan bagi seluruh tenant mal di Bangkok

Permintaan pascapandemi mendorong pergeseran menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Nando's andalkan desain gerai untuk menangi persaingan lokasi drive-thru

Jaringan restoran ini membidik lokasi premium di luar klaster QSR tradisional.

Restoran ramah hewan peliharaan berpotensi dongkrak lalu lintas mal di pusat kota Hong Kong

Belanja akhir pekan diperkirakan lebih menguntungkan mal di pusat kota dibandingkan pusat perbelanjaan di pinggiran.

Uniqlo buka gerai interaktif koleksi pakaian untuk cuaca panas di Singapura

Pengunjung dapat merasakan langsung fungsi kain melalui instalasi interaktif.

Pelonggaran sewa tarik kembali peritel ke jalanan Hong Kong

Toko di lantai dasar menawarkan visibilitas lebih tinggi bagi peritel makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kepergian Deliveroo picu duopoli pengiriman makanan di Singapura

Konsolidasi pasar diperkirakan mendorong kenaikan biaya pengiriman dan komisi merchant seiring dominasi Grab dan Foodpanda.