Inverter grid-forming ambil alih kendali untuk stabilkan jaringan listrik Asia
Pertumbuhan konsumsi listrik kini melaju lebih cepat daripada kapasitas jaringan yang menyalurkannya.
Inverter grid-forming membantu sistem kelistrikan menjaga kestabilan tegangan dan frekuensi. Teknologi ini kian penting bagi Asia, seiring permintaan listrik yang melampaui laju pembaruan jaringan.
Perusahaan utilitas di Asia Timur, Selatan, dan Tenggara mulai beralih ke teknologi ini. Tujuannya, mendukung jaringan yang tertekan oleh pertumbuhan energi terbarukan, beban digital berskala besar, dan ekspansi industri.
"Kita bergerak dari konverter yang sekadar mengikuti jaringan, menjadi konverter yang mampu memimpin jaringan," ujar Matthias Foehr, Vice President of Product Management for Grid Technologies di Siemens Energy AG, kepada Asian Power.
Konsumsi listrik di kawasan ini melonjak pesat. Pendorongnya antara lain pusat data kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, serta industri padat energi seperti manufaktur semikonduktor dan baterai. Di saat bersamaan, pemerintah terus memperluas kapasitas tenaga surya dan angin — yang justru membuat pasokan listrik kurang stabil. Jaringan konvensional, yang dirancang untuk permintaan stabil dari batu bara, gas, dan tenaga air, kini kewalahan menghadapi perubahan ini.
Investasi pada infrastruktur transmisi dan distribusi baru sudah lama tertinggal dari pertumbuhan permintaan. Akibatnya, perusahaan utilitas harus mengelola beban terpusat dengan jaringan yang menua, menurut laporan S&P Global Horizons Top Trends 2026.
"Permintaan listrik kini tumbuh lebih cepat daripada jaringan fisik yang menyalurkannya," ujar Foehr melalui jawaban tertulis via email. "Kami menyaksikan pembangkitan listrik yang makin variatif, permintaan industri yang makin sensitif, serta kebutuhan kontrol sistem yang jauh lebih ketat."
Pembangunan saluran transmisi dan gardu induk baru bisa memakan waktu satu dekade atau lebih, akibat kendala lahan, hambatan regulasi, dan tantangan pembiayaan. Karena itu, perusahaan utilitas kini lebih memilih memperkuat sistem yang sudah ada, alih-alih hanya mengandalkan ekspansi fisik.
Teknologi grid-forming sudah memberi dampak nyata di lini transmisi, distribusi, maupun integrasi energi terbarukan, kata Mike Bowman, Chief Technology Officer di GE Vernova, Inc.
"Di sejumlah kawasan, sistem penyimpanan energi berinverter grid-forming kini dihubungkan ke jaringan transmisi untuk membantu menstabilkan sistem," ujarnya melalui email.
Proyek energi terbarukan kini makin banyak dipadukan dengan kapabilitas grid-forming. Sementara itu, jaringan distribusi turut memperoleh manfaat berupa stabilitas yang lebih baik serta kemampuan beroperasi mandiri saat terjadi gangguan, tambahnya.
Inverter grid-forming berbeda dari inverter konvensional, yang bergantung pada sinyal jaringan yang sudah kuat. Sebaliknya, inverter grid-forming mampu membentuk tegangan dan frekuensinya sendiri. Dengan begitu, energi terbarukan dan sistem penyimpanan baterai bisa menstabilkan jaringan, seiring pensiunnya pembangkit listrik berbahan bakar fosil konvensional.
Teknologi ini juga memungkinkan sistem energi lokal beroperasi mandiri saat terjadi pemadaman, sehingga jaringan listrik menjadi lebih tangguh. Selain itu, inverter grid-forming dapat menyediakan referensi stabil bagi jaringan, mendukung operasi black-start ketika jaringan utama padam, serta menjaga stabilitas sistem saat terjadi lonjakan konsumsi dari pusat data AI dan industri yang telah terelektrifikasi.
Meski punya banyak keunggulan, integrasi inverter grid-forming ke jaringan yang sudah ada tetap menjadi tantangan. Infrastruktur lama tidak dirancang untuk sumber listrik berbasis inverter. Karena itu, dibutuhkan pembaruan pada sistem proteksi, pelatihan operator, serta teknik pemodelan baru, kata Bowman.
Biaya dan kompleksitas inverter grid-forming juga lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional, yang bisa memperlambat adopsinya, ia menambahkan.
Sistem kontrol digital menjadi semakin penting untuk mengelola banyak inverter sekaligus sumber energi lokal secara bersamaan. Platform-platform mutakhir kini memungkinkan pemantauan nyaris real-time, respons otomatis terhadap perubahan permintaan, serta prakiraan kebutuhan listrik yang lebih akurat.
Meski membantu perusahaan utilitas mengelola kepadatan jaringan dan meningkatkan stabilitas, teknologi ini belum bisa sepenuhnya menggantikan ekspansi jaringan fisik.
Para analis memperingatkan, tanpa percepatan modernisasi jaringan, Asia berisiko menghadapi kenaikan harga listrik, penundaan koneksi fasilitas industri baru, serta risiko pemadaman yang lebih besar. Karena itu, perusahaan utilitas perlu mengejar pembaruan digital dan ekspansi fisik secara bersamaan, agar mampu mengimbangi lonjakan permintaan listrik.
"Ada kurva pembelajaran yang cukup signifikan," ujar Foehr. "Namun seiring meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan, teknologi ini bergeser dari pilihan menjadi keharusan."
Seberapa cepat perusahaan utilitas mengadopsi teknologi ini, pada akhirnya, dapat menentukan apakah sistem kelistrikan kawasan ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi — atau justru menghambatnya — dalam beberapa tahun mendatang.