Peritel India beralih ke strategi hiperlokal seiring ekspansi berbasis kota mulai kehilangan relevansi
Peritel memanfaatkan data pasar mikro untuk menentukan lokasi pembukaan toko.
Peritel di India mulai meninggalkan strategi ekspansi berbasis kota dan beralih ke pendekatan yang lebih spesifik hingga tingkat lingkungan, seiring permintaan konsumen dan potensi bisnis yang semakin beragam di setiap kawasan.
"Bharat—wilayah nonmetropolitan yang mencakup kota-kota Tier 2 hingga Tier 4—kini menjadi mesin pertumbuhan," kata Archana Gupta, executive director sekaligus head of market strategy and understanding and shopper insights di Ipsos SA., kepada *Retail Asia*.
Menurut Gupta, kota-kota tersebut kini menyumbang lebih dari 45% pesanan e-commerce, seiring pasar ritel India diproyeksikan mencapai nilai US$2 triliun pada 2032.
Pola konsumsi pun semakin beragam. Penjualan produk mewah tumbuh sekitar 12% hingga 14%, sementara peritel yang berfokus pada segmen harga terjangkau, seperti Avenue Supermarts Ltd., juga terus mencatat pertumbuhan yang kuat.
"Perencanaan ekspansi kini tidak lagi berfokus pada tingkat kota, melainkan pada pasar mikro, yaitu kawasan-kawasan dengan karakteristik permintaan dan sensitivitas harga yang berbeda," kata Gupta melalui jawaban tertulis. Ia menambahkan, Mumbai saja memiliki lebih dari 200 kawasan dengan karakteristik pasar yang berbeda.
Sebelum membuka toko baru, peritel kini menganalisis area layanan dalam radius sekitar 500 meter hingga 1,5 kilometer dengan mempertimbangkan arus komuter, perubahan komposisi penduduk, serta tingkat persaingan di sekitar lokasi.
"DMart dikabarkan menolak sekitar 70% hingga 80% lokasi berdasarkan faktor seperti kemudahan akses pejalan kaki, ketersediaan parkir, dan biaya sewa," kata Gupta.
Teknologi dan analisis lokasi kini menjadi bagian penting dalam strategi ekspansi. Gupta mengatakan peritel memanfaatkan pemetaan berbasis sistem informasi geografis (GIS), data mobilitas operator telekomunikasi, serta tren pembayaran digital untuk mengidentifikasi kawasan yang masih memiliki potensi.
Sebagai contoh, kawasan dengan permintaan tinggi untuk layanan pengiriman dari platform seperti Swiggy Ltd. dan Zepto Ltd., tetapi belum banyak dilayani peritel modern, dinilai sebagai peluang yang menarik.
Menurut Gupta, peritel yang menggunakan analisis lokasi tingkat lanjut mencatat tingkat keberhasilan pembukaan toko sekitar 15% hingga 20% lebih tinggi dibandingkan pendekatan konvensional.
Rami Kaushal, managing director untuk layanan konsultasi dan penilaian di India, Timur Tengah, dan Afrika di CBRE Group, Inc., mengatakan peritel kini lebih mengandalkan data tingkat lingkungan dibandingkan asumsi yang berlaku untuk satu kota secara keseluruhan.
"Untuk mendukung ekspansi di luar pendekatan berbasis kategori kota, peritel India memanfaatkan analitik hiperlokal, data geospasial, dan jejak digital hingga tingkat lingkungan maupun kode pos," katanya melalui email.
Peritel juga semakin agresif menyesuaikan bauran produk dengan kebutuhan setiap wilayah.
Gupta mengatakan pasar di India selatan cenderung lebih banyak mengonsumsi beras dan *filter coffee*, sedangkan wilayah utara lebih didominasi permintaan gandum, produk susu, dan teh.
Di kawasan perkotaan dengan daya beli tinggi, permintaan terhadap produk impor dan organik lebih besar. Sementara itu, wilayah yang banyak dihuni pekerja migran umumnya membutuhkan produk-produk khas dari daerah asal mereka.
Meski demikian, kesalahan memilih lokasi tetap menjadi salah satu risiko terbesar.
Gupta memperkirakan sekitar 20% hingga 25% toko baru gagal mencapai target pada tahun pertama akibat visibilitas yang kurang baik, keterbatasan area parkir, atau posisi toko yang kurang strategis.
"Presisi akan lebih penting daripada sekadar memperbanyak jumlah gerai," kata Gupta. Menurutnya, peritel kini semakin memandang setiap toko sebagai bagian dari jaringan omnichannel yang saling terhubung, bukan sebagai gerai yang berdiri sendiri.