Guncangan harga minyak berdampak ke listrik gas Asia, meski dengan jeda | Asian Business Review
, APAC
2110 views
From left to right: Rodolphe Ruffié-Farrugia, partner at K&L Gates; Dieter Billen, partner at Roland Berger; Matthew Osborne, partner at K&L Gates; and Choon Hong Chua, senior director at Moody’s.

Guncangan harga minyak berdampak ke listrik gas Asia, meski dengan jeda

Kesepakatan LNG take-or-pay batasi kemampuan operator menyesuaikan produksi.

Operator pembangkit listrik berbahan bakar gas di Asia menghadapi kenaikan biaya yang tak terhindarkan akibat guncangan harga minyak — meski dampaknya baru terasa belakangan. Kondisi ini menekan margin sekaligus membatasi kemampuan operator menyesuaikan produksi.

"Ini akan langsung berdampak pada biaya bahan bakar — baik untuk pembelian spot secara langsung, maupun untuk kontrak jangka panjang dengan jeda waktu sekitar empat hingga lima bulan," ujar Dieter Billen, Partner di Roland Berger GmbH, kepada Asian Power. Ia menyebut bahan bakar menyumbang hingga 90% dari total biaya produksi marjinal pembangkit listrik berbasis gas.

Ia menambahkan, harga gas alam cair (LNG) masih terikat pada acuan harga minyak mentah seperti Japan Crude Cocktail dan Brent — sehingga volatilitas harga minyak turut tertanam dalam perjanjian pasokan gas jangka panjang.

Fleksibilitas operasional pun kian menyempit di tengah tekanan ini. Perjanjian LNG berskema take-or-pay mewajibkan pembeli membayar volume yang telah dikontrak, bahkan jika tidak sepenuhnya digunakan — sehingga membatasi respons terhadap perubahan harga yang mendadak, ujar Matthew Osborne, Partner di K&L Gates LLP, melalui Zoom.

Ia menambahkan, perjanjian jual-beli listrik (power purchase agreement) turut membatasi keputusan dispatch, sehingga operator tidak bisa leluasa menyesuaikan produksi meski terjadi perubahan efisiensi bahan bakar. Sementara itu, pembangkit merchant hanya memiliki fleksibilitas terbatas.

Di sebagian besar pasar Asia, regulasi, infrastruktur, dan keterbatasan lingkungan lebih banyak memengaruhi keputusan pembangkitan listrik dibandingkan sinyal harga jangka pendek, kata Choon Hong Chua, Senior Director di Moody's Corp., dalam jawaban tertulis melalui email.

Ia mengatakan, skema harga yang terkait dengan minyak terus menyalurkan risiko melalui kontrak-kontrak lama, meski tingkat eksposurnya berbeda-beda tergantung struktur pasar dan ketergantungan impor.

Jepang dan Korea Selatan tetap sangat terekspos akibat kontrak yang terkait harga minyak, sementara Asia Tenggara menunjukkan tingkat eksposur yang bervariasi. China relatif lebih terlindungi berkat pasokan domestiknya, sementara Singapura menghadapi eksposur tinggi karena hampir seluruhnya bergantung pada impor gas.

Kenaikan biaya bahan bakar membuat pembangkit berbasis gas semakin kurang kompetitif.

"Setelah jeda beberapa bulan, harga minyak maupun gas sama-sama naik," ujar Billen. "Banyak perusahaan utilitas di Asia merespons dengan memaksimalkan penggunaan bahan bakar lain, seperti batu bara."

Pembangkit berbasis gas berpotensi bergeser ke peran dengan tingkat pemakaian lebih rendah, atau sebagai pembangkit peaking, seiring diprioritaskannya sumber energi baseload yang lebih murah.

Guncangan harga juga menekan kontrak-kontrak LNG. Gangguan yang terkait dengan Selat Hormuz berpotensi memicu perselisihan, bahkan dalam beberapa kasus mendorong klaim force majeure — di mana salah satu pihak berupaya menangguhkan kewajibannya akibat peristiwa di luar kendali.

Menurut para ahli hukum, volatilitas harga semata tidak cukup untuk memenuhi syarat force majeure. Sejumlah pemerintah telah menerapkan langkah-langkah jangka pendek, seperti keringanan pajak dan kontrol harga, guna meringankan beban konsumen.

"Setiap kali terjadi krisis terkait sumber daya atau energi, pemerintah kerap tergoda mengambil pendekatan nasionalisme sumber daya," ujar Rodolphe Ruffié-Farrugia, Partner di K&L Gates, kepada Asian Power. "Itu adalah jalan yang sangat berisiko untuk ditempuh."

Ia mengingatkan, banyak negara telah terikat perjanjian internasional yang mewajibkan mereka untuk tidak memihak pelaku usaha domestik dibandingkan pelaku usaha asing. Langkah-langkah proteksionis, menurutnya, berisiko memicu keberatan dari investor asing yang mengacu pada perlindungan traktat.

"Ada perjanjian antara negara saya dan negara Anda yang menyatakan hal semacam itu tidak boleh dilakukan," tambahnya.

International Energy Agency (IEA) telah melepas 400 juta barel dari cadangan darurat guna menstabilkan pasar minyak dalam jangka pendek. Namun, eksposur struktural yang terkait kontrak LNG tetap ada.

Para operator kini beralih ke strategi lindung nilai (hedging) dan diversifikasi pasokan, termasuk kontrak jangka panjang dan penyeimbangan portofolio bahan bakar, guna mengelola volatilitas harga.

Eksposur ini bersifat struktural, bukan sekadar siklikal — karena kontrak-kontrak yang ada menentukan bagaimana dan kapan guncangan harga akan menjalar ke seluruh sistem.

Follow the link for more news on

Levi's manfaatkan Asia untuk matangkan strategi lifestyle premium

Tren konsumen yang bergerak cepat turut membentuk strategi global merek ini.

Huawei andalkan uji kamera langsung di toko

Perbandingan langsung menggantikan spesifikasi teknis dalam strategi penjualan.

Peritel optik Singapura andalkan layanan eye care untuk dorong repeat order

Keahlian profesional jadi daya tarik yang makin penting seiring meningkatnya persaingan harga.

Pengiriman lewat drone ciptakan ceruk premium di ritel China

Perusahaan mengincar kecepatan dan kepraktisan, bukan menggantikan kurir konvensional.

MINISO melangkah lebih jauh ke creator economy lewat galeri di Shanghai

Peritel ini berencana ekspansi ke Hong Kong, Beijing, Tokyo, Paris, dan New York.

OCBC perluas akses wealth management berbasis digital

Mobile banking membawa layanan investasi ke lebih banyak masyarakat Indonesia.

Aturan bunker LNG Singapura perberat biaya dan tanggung jawab pemasok

Pemasok wajib memiliki atau menyewa kapal bunker LNG serta mengamankan kapasitas penyimpanan dan pengiriman.

Telko ubah AI jadi layanan berbasis pemakaian bagi bisnis

Operator gabungkan daya komputasi dengan konektivitas untuk menangkap permintaan enterprise.

Persaingan telko Singapura tetap ketat pasca batalnya kesepakatan Simba-M1

Pasar kecilnya membuat sektor mobile dan broadband tetap dalam kondisi jenuh.