Guncangan harga minyak berdampak ke listrik gas Asia, meski dengan jeda | Asian Business Review
, APAC
2062 views
From left to right: Rodolphe Ruffié-Farrugia, partner at K&L Gates; Dieter Billen, partner at Roland Berger; Matthew Osborne, partner at K&L Gates; and Choon Hong Chua, senior director at Moody’s.

Guncangan harga minyak berdampak ke listrik gas Asia, meski dengan jeda

Kesepakatan LNG take-or-pay batasi kemampuan operator menyesuaikan produksi.

Operator pembangkit listrik berbahan bakar gas di Asia menghadapi kenaikan biaya yang tak terhindarkan akibat guncangan harga minyak — meski dampaknya baru terasa belakangan. Kondisi ini menekan margin sekaligus membatasi kemampuan operator menyesuaikan produksi.

"Ini akan langsung berdampak pada biaya bahan bakar — baik untuk pembelian spot secara langsung, maupun untuk kontrak jangka panjang dengan jeda waktu sekitar empat hingga lima bulan," ujar Dieter Billen, Partner di Roland Berger GmbH, kepada Asian Power. Ia menyebut bahan bakar menyumbang hingga 90% dari total biaya produksi marjinal pembangkit listrik berbasis gas.

Ia menambahkan, harga gas alam cair (LNG) masih terikat pada acuan harga minyak mentah seperti Japan Crude Cocktail dan Brent — sehingga volatilitas harga minyak turut tertanam dalam perjanjian pasokan gas jangka panjang.

Fleksibilitas operasional pun kian menyempit di tengah tekanan ini. Perjanjian LNG berskema take-or-pay mewajibkan pembeli membayar volume yang telah dikontrak, bahkan jika tidak sepenuhnya digunakan — sehingga membatasi respons terhadap perubahan harga yang mendadak, ujar Matthew Osborne, Partner di K&L Gates LLP, melalui Zoom.

Ia menambahkan, perjanjian jual-beli listrik (power purchase agreement) turut membatasi keputusan dispatch, sehingga operator tidak bisa leluasa menyesuaikan produksi meski terjadi perubahan efisiensi bahan bakar. Sementara itu, pembangkit merchant hanya memiliki fleksibilitas terbatas.

Di sebagian besar pasar Asia, regulasi, infrastruktur, dan keterbatasan lingkungan lebih banyak memengaruhi keputusan pembangkitan listrik dibandingkan sinyal harga jangka pendek, kata Choon Hong Chua, Senior Director di Moody's Corp., dalam jawaban tertulis melalui email.

Ia mengatakan, skema harga yang terkait dengan minyak terus menyalurkan risiko melalui kontrak-kontrak lama, meski tingkat eksposurnya berbeda-beda tergantung struktur pasar dan ketergantungan impor.

Jepang dan Korea Selatan tetap sangat terekspos akibat kontrak yang terkait harga minyak, sementara Asia Tenggara menunjukkan tingkat eksposur yang bervariasi. China relatif lebih terlindungi berkat pasokan domestiknya, sementara Singapura menghadapi eksposur tinggi karena hampir seluruhnya bergantung pada impor gas.

Kenaikan biaya bahan bakar membuat pembangkit berbasis gas semakin kurang kompetitif.

"Setelah jeda beberapa bulan, harga minyak maupun gas sama-sama naik," ujar Billen. "Banyak perusahaan utilitas di Asia merespons dengan memaksimalkan penggunaan bahan bakar lain, seperti batu bara."

Pembangkit berbasis gas berpotensi bergeser ke peran dengan tingkat pemakaian lebih rendah, atau sebagai pembangkit peaking, seiring diprioritaskannya sumber energi baseload yang lebih murah.

Guncangan harga juga menekan kontrak-kontrak LNG. Gangguan yang terkait dengan Selat Hormuz berpotensi memicu perselisihan, bahkan dalam beberapa kasus mendorong klaim force majeure — di mana salah satu pihak berupaya menangguhkan kewajibannya akibat peristiwa di luar kendali.

Menurut para ahli hukum, volatilitas harga semata tidak cukup untuk memenuhi syarat force majeure. Sejumlah pemerintah telah menerapkan langkah-langkah jangka pendek, seperti keringanan pajak dan kontrol harga, guna meringankan beban konsumen.

"Setiap kali terjadi krisis terkait sumber daya atau energi, pemerintah kerap tergoda mengambil pendekatan nasionalisme sumber daya," ujar Rodolphe Ruffié-Farrugia, Partner di K&L Gates, kepada Asian Power. "Itu adalah jalan yang sangat berisiko untuk ditempuh."

Ia mengingatkan, banyak negara telah terikat perjanjian internasional yang mewajibkan mereka untuk tidak memihak pelaku usaha domestik dibandingkan pelaku usaha asing. Langkah-langkah proteksionis, menurutnya, berisiko memicu keberatan dari investor asing yang mengacu pada perlindungan traktat.

"Ada perjanjian antara negara saya dan negara Anda yang menyatakan hal semacam itu tidak boleh dilakukan," tambahnya.

International Energy Agency (IEA) telah melepas 400 juta barel dari cadangan darurat guna menstabilkan pasar minyak dalam jangka pendek. Namun, eksposur struktural yang terkait kontrak LNG tetap ada.

Para operator kini beralih ke strategi lindung nilai (hedging) dan diversifikasi pasokan, termasuk kontrak jangka panjang dan penyeimbangan portofolio bahan bakar, guna mengelola volatilitas harga.

Eksposur ini bersifat struktural, bukan sekadar siklikal — karena kontrak-kontrak yang ada menentukan bagaimana dan kapan guncangan harga akan menjalar ke seluruh sistem.

Follow the link for more news on

Investasi energi terbarukan Asia-Pasifik melaju lebih cepat dari efisiensi pengadaan

Pengembang soroti hambatan jaringan, kontrak, dan dokumentasi.

Batu bara Jepang belum mampu gantikan pasokan LNG dari Selat Hormuz

Perusahaan utilitas batasi pembelian batu bara di tengah ketidakpastian durasi gangguan pasokan.

Guncangan harga minyak berdampak ke listrik gas Asia, meski dengan jeda

Kesepakatan LNG take-or-pay batasi kemampuan operator menyesuaikan produksi.

Pajak karbon dan impor energi hijau tingkatkan biaya serta risiko kepatuhan

Fokus sempit pada pajak semata mengabaikan gambaran ekonomi yang lebih utuh.

China pimpin investasi fusi energi di Asia dengan dana capai US$5 miliar

China Fusion Energy Corporation berperan sebagai pusat nasional senilai US$2,1 miliar untuk proyek-proyek "matahari buatan".

Inverter grid-forming ambil alih kendali untuk stabilkan jaringan listrik Asia

Pertumbuhan konsumsi listrik kini melaju lebih cepat daripada kapasitas jaringan yang menyalurkannya.

Peritel India beralih ke strategi hiperlokal seiring ekspansi berbasis kota mulai kehilangan relevansi

Peritel memanfaatkan data pasar mikro untuk menentukan lokasi pembukaan toko.

Siam Piwat terapkan standar ramah lingkungan bagi seluruh tenant mal di Bangkok

Permintaan pascapandemi mendorong pergeseran menuju konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Nando's andalkan desain gerai untuk menangi persaingan lokasi drive-thru

Jaringan restoran ini membidik lokasi premium di luar klaster QSR tradisional.

Restoran ramah hewan peliharaan berpotensi dongkrak lalu lintas mal di pusat kota Hong Kong

Belanja akhir pekan diperkirakan lebih menguntungkan mal di pusat kota dibandingkan pusat perbelanjaan di pinggiran.