Batu bara Jepang belum mampu gantikan pasokan LNG dari Selat Hormuz
Perusahaan utilitas batasi pembelian batu bara di tengah ketidakpastian durasi gangguan pasokan.
Jepang tidak mampu mengimpor cukup batu bara untuk menggantikan pasokan gas alam cair (LNG) yang hilang akibat gangguan di Selat Hormuz — membuat perusahaan utilitas tetap terekspos risiko, meski pemerintah telah mengubah kebijakan untuk meningkatkan penggunaan batu bara pasca-gangguan pasokan yang memperketat pasar global.
International Energy Agency (IEA) menyebut penutupan selat akibat perang AS-Israel melawan Iran telah menghilangkan hampir 20% pasokan LNG global, dengan Jepang sebagai salah satu importir paling terdampak, mengingat ketergantungannya pada jalur pengiriman melalui selat tersebut.
"Operator kemungkinan besar akan cukup ragu untuk terlibat dalam pengadaan batu bara secara besar-besaran," ujar Walter James, spesialis pembiayaan energi untuk Jepang di Institute for Energy Economics and Financial Analysis, kepada Asian Power melalui Zoom.
Ia mencatat, meski Jepang melonggarkan batasan penggunaan pembangkit batu bara untuk mengatasi kekurangan pasokan LNG, kebijakan tersebut akan kembali diberlakukan pada tahun fiskal mendatang.
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) menangguhkan batas 50% untuk pembangkit yang beroperasi di bawah efisiensi termal 42%, mencakup sekitar 9 gigawatt kapasitas.
Namun, kebijakan ini hanya memberikan keringanan terbatas. Estimasi pemerintah menunjukkan potensi penghematan LNG sekitar 500.000 ton per tahun — hanya sedikit di atas 10% dari sekitar 4 juta ton LNG yang diimpor Jepang setiap tahun melalui selat tersebut.
Zero Carbon Analytics menempatkan Jepang sebagai importir dengan skor gangguan tertinggi di antara importir-importir utama, yakni 6,4 — lebih tinggi dibandingkan Korea Selatan (5,3) dan India (4,9), mencerminkan tingkat eksposurnya terhadap risiko pasokan.
Pasokan batu bara sendiri bukan kendala utama. Indonesia telah memberi sinyal dapat meningkatkan produksi apabila harga tetap bertahan, sementara pasar secara umum masih tergolong tercukupi pasokannya, kata Sholpan Gabbassova, Senior Research Analyst for Thermal Coal Markets di perusahaan riset dan analitik energi Wood Mackenzie Ltd., kepada Asian Power.
"Dengan asumsi selat kembali dibuka pada awal Mei 2026, tidak ada katalis harga yang berkelanjutan, sehingga tidak diperlukan premi kontrak di atas harga pasar," ujarnya melalui Zoom.
Perusahaan utilitas kini menjadikan batu bara Newcastle asal Australia — acuan utama kontrak Jepang — sebagai basis pembelian, sehingga membatasi minat untuk melakukan pembelian agresif selama periode gangguan yang relatif singkat ini, kata James.
Persaingan di tingkat regional berpotensi meningkat, seiring Jepang beralih ke pasar spot. Meningkatnya permintaan dari perusahaan utilitas Jepang berpotensi bersaing dengan pembeli di Korea Selatan, Taiwan, dan India untuk memperebutkan kargo yang tersedia.
Jepang berpotensi menutup sebagian kehilangan pasokan gas dengan meningkatkan penggunaan batu bara secara moderat, tanpa perlu mengaktifkan kembali pembangkit yang tidak beroperasi (idle), kata Xiaonan Feng, Principal Analyst for Asia-Pacific Power and Renewable Research di Wood Mackenzie, dalam jawaban tertulis melalui email.
Ketidakpastian durasi gangguan tetap menjadi kendala utama, dengan perusahaan utilitas cenderung menghindari komitmen jangka panjang hingga kejelasan muncul mengenai kapan Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya.