Bagaimana perkembangan perubahan fokus manajemen kekayaan bank? | Asian Business Review
, APAC
333 views
Photo by Hunters Race via Unsplash.

Bagaimana perkembangan perubahan fokus manajemen kekayaan bank?

Seorang analis mengatakan, "Ada hingga $25 miliar dalam biaya yang bisa didapat di Asia, tetapi ini pasar yang sulit."

Selama setengah dekade terakhir - sebelum adanya tren suku bunga tinggi mendorong bank mencatat keuntungan pada  2023 - kapan pun tiba waktunya bagi pemberi pinjaman untuk pembaruan pendapatan per kuartal atau pertengahan tahun terhadap pendapatan mereka, pasti akan ada salah satu dari tiga hal ini: laba yang lebih rendah; restrukturisasi lainnya; dan potensi manajemen kekayaan sebagai pendorong profitabilitas.

Harapan bank dalam mengelola kelompok pendapatan atas bukan tanpa sebab. Sebuah laporan McKinsey & Co. tahun 2023 menyatakan bahwa ada hingga $25 miliar dalam biaya yang bisa didapat dari orang terkaya Asia.

Kisah sukses, seperti Divisi Manajemen Kekayaan UBS yang menghasilkan sekitar $1,5 miliar dalam biaya terkait kekayaan untuk kuartal ketiga 2021, misalnya, menunjukkan harapan. Mulai  saat itu, divisi UBS tersebut akan melaporkan pendapatan sebesar $4,97 miliar dan $3,58 miliar untuk 2022 dan 2023, secara berturut-turut.

Jasper Yip dari Oliver Wyman mengatakan kepada Asian Banking & Finance bahwa ada $200 miliar dalam kolam pendapatan global khususnya untuk solusi "manajemen kekayaan (dan) perbankan korporat dan institusional.”

Selain biaya dan komisi, bisnis manajemen kekayaan bank juga telah tampil sebagai alat fektif untuk menarik pendanaan yang lebih stabil untuk neraca keuangan mereka, yang sangat menguntungkan di lingkungan suku bunga yang lebih tinggi, kata Yip.

Tetapi tidak semua orang mengikuti jalur yang sama.

"Dalam lingkungan saat ini, bank-bank perlu mengembangkan portofolio pendapatan yang lebih tangguh di mana sifat ekonomi manajemen kekayaan jangka panjang dapat berfungsi sebagai pelengkap bisnis-bisnis jangka pendek seperti perbankan investasi dan penjualan & perdagangan," catat Yip, yang merupakan mitra dan kepala perbankan korporat dan institusional untuk Asia Pasifik di Oliver Wyman.

ALSO READ: Wealth management industry challenged to rear investors to safe-haven assets

Apakah kilau Cina memudar?

Cina sering kali merupakan pasar kunci di Asia oleh bank-bank sebagai tempat kekayaan. Ada alasan bank untuk ini: negara tersebut dikatakan menciptakan jutawan dengan kecepatan tiga kali lebih cepat daripada AS hingga 2025, setidaknya menurut perkiraan laporan kekayaan 2021 oleh Credit Suisse.

"Di Asia, penciptaan kekayaan ditandai dengan munculnya pengusaha secara cepat. Ini terjadi di Cina di sektor teknologi selama dekade terakhir, sementara kami juga mengamati hal yang sama untuk pasar-pasar Asia lainnya yang sedang berkembang," kata Yip.

Tetapi mulai 2020 tidaklah begitu baik bagi Cina. Selain dampak negatif global yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, negara itu juga menghadapi berbagai masalah terkait ekonomi. Ada krisis properti yang masih berlanjut, yang terkenal menimpa raksasa properti Evergrande. Evergrande mengajukan kebangkrutan pada 2023, sebuah kemunduran yang dimulai dengan gagal bayar terhadap utang mereka yang sebesar $333 miliar pada 2021

Industri perbankan Cina juga mengalami kelemahan. Salah satu contoh nyata dari masalah perbankan Cina adalah ketika tiga bank di provinsi Henan membekukan setidaknya $178 juta deposito pada 2022. Aturan lockdown ketat selama 2020-2022 semakin membebani ekonomi yang sudah melambat sebelum pandemi.

Masalah geopolitik yang rumit dengan Taiwan dan AS juga menjadi kekhawatiran.

"Kami  mengamati ada lebih banyak nuansa untuk  membangun manajemen kekayaan di Cina dibandingkan dengan 5 tahun yang lalu," kata Yip.

Namun, bagi bank-bank asing,ada fakta bahwa penduduk setempat lebih cenderung untuk bekerja dengan bank-bank lokal daripada mempercayai uang mereka kepada pemain internasional. "Meskipun tantangan geopolitik seringkali disebut sebagai alasan, eksplorasi awal oleh bank-bank asing juga telah mengungkapkan bahwa di daratan Cina masih sangat terikat dengan pasar lokal, di mana individu lokal yang kaya masih lebih memilih untuk pergi ke bank lokal dengan produk lokal yang lebih dalam," kata Yip.

Namun demikian, Yip percaya bahwa sikap-sikap ini "sedang perlahan-lahan berubah." "Pembalikan suku bunga" pada akhir 2023 menunjukkan bahwa individu di Cina semakin terbuka untuk menggunakan produk investasi lintas batas dan global yang lebih baik disediakan oleh bank-bank global.

ALSO READ: Will your next wealth relationship manager be a machine?

Strategi pengelolaan aset

Bank-bank asing juga mengambil pendekatan yang berbeda untuk menembus pasar manajemen kekayaan di Cina: yaitu melalui perusahaan pengelolaan aset.

"Kami melihat bahwa sebagian besar manajer kekayaan/bank swasta sekarang telah memusatkan perhatian untuk membangun kemampuan pengelolaan aset di Cina untuk segera memanfaatkan kekuatan produk global mereka dan secara bertahap membangun afinitas merek lokal untuk peluang masa depan yang lebih besar, dibandingkan dengan hipotesis awal untuk membangun bank swasta penuh di Cina," catat Yip.

Secara keseluruhan, meskipun menghadapi tantangan, Cina masih dianggap oleh bank-bank sebagai bagian signifikan dari kekayaan global.

"[Ini] masih penting secara strategis bagi bank-bank global untuk menjelajahi Cina daratan dengan hati-hati untuk menjaga brand mereka relevan bagi modal offshore Cina," kata Yip.

Optimasi untuk masa depan

Secara keseluruhan, Oliver Wyman tetap optimis terhadap masa depan industri manajemen kekayaan setidaknya untuk 12 hingga 24 bulan mendatang. Sementara itu, tantangan jangka pendek diharapkan untuk lingkungan investasi global.

"Bank-bank yang menikmati pendapatan bunga bersih yang sehat yang terkait dengan manajemen kekayaan selama periode ini perlu mempertimbangkan untuk mengoptimalkan infrastruktur dan ilmu manajemen untuk terus tumbuh secara lebih berkelanjutan di masa depan," kata Yip.

Dia menyarankan bank untuk mengadopsi kombinasi yang disesuaikan dari layanan yang dipimpin oleh manusia dan teknologi serta interface digital, dengan mencatat bahwa hal ini akan menjadi semakin penting bagi pemenang di masa depan.

ALSO READ: Why Singaporeans are okay with locking away over $4b of their money

McKinsey & Co.turut mengatakan hal yang sama. "Bank-bank dan manajer kekayaan dapat menggunakan produk dan layanan digital yang lebih dipersonalisasi dan disesuaikan dengan kebutuhan segmen nasabah tertentu, dan yang memiliki biaya layanan yang lebih rendah daripada interaksi klien tradisional," kata mereka dalam laporan tentang manajemen kekayaan digital dan berbasis AI di Asia.

Untuk mencapai keunggulan-keunggulan ini, bank-bank dan manajer kekayaan kabarnya akan memerlukan pendekatan penuh melintasi empat dimensi: proposisi nilai nasabah yang tersegmentasi, keterlibatan digital yang direimaginasikan, pengambilan keputusan dan teknologi inti yang didukung oleh AI, serta model operasi dan talenta yang tepat, menurut McKinsey & Co.

Rumah Sakit Kanker Dharmais memimpin inovasi pelayanan kanker di Indonesia

Direktur Utama RS Kanker Dharmais Soeko Werdi Nindito Daroekoesoemo mengungkapkan teknologi canggih dan tujuh program unggulan untuk perawatan kanker.

BRI Life mengandalkan kanal bancassurance di tengah permintaan asuransi yang meningkat

Hingga November 2023, kanal bancassurance berkontribusi sebesar 81% dari total pendapatan premi BRI Life.

Allianz Syariah menawarkan asuransi Syariah untuk seluruh masyarakat Indonesia

Tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah yang masih rendah mendorong perusahaan menerapkan langkah jangka pendek dan panjang.

Aplikasi blu oleh Group BCA memperluas ekosistem digital melalui BaaS

Strategi tersebut telah berhasil meningkatkan transaksi dan membangun kepercayaan nasabah sebesar 53,4% sepanjang 2023.

RUU data kesehatan Singapura mewajibkan pengaturan pemberian informasi

Untuk memastikan pengungkapan dan pemberian data, Kementerian Kesehatan dapat memberlakukan denda hingga $1 juta atas ketidakpatuhan.

Asuransi melonjak berkat lonjakan wisatawan Hong Kong

CEO Jim Qin dari Zurich Insurance menyatakan tren liburan yang panjang pada warga Hong Kong di 2023, meningkatkan penjualan asuransi perjalanan.

Bank Tabungan Negara (BTN) bertekad meningkatkan pinjaman kepemilikan rumah syariah

Hingga November 2023, aset BTN Syariah telah mencapai Rp49 triliun.

IDCTA: Partisipasi global dapat meningkatkan penjualan kredit karbon Indonesia

Pasar karbon Indonesia yang baru dibuka memiliki sebanyak 71,95% kredit karbon yang belum terjual pada akhir 2023.