Transformasi digital meningkatkan kualitas Rumah Sakit Columbia Asia | Asian Business Review
, Indonesia
887 views
CEO Columbia Asia Hospitals Indonesia, Naveen Kumar Mantha

Transformasi digital meningkatkan kualitas Rumah Sakit Columbia Asia

Memberikan layanan kesehatan yang erat dengan kebutuhan dan preferensi masyarakat adalah kunci keberhasilan jaringan rumah sakit ini dalam ekspansi mereka.

Rumah Sakit Columbia Asia Indonesia melihat adanya peningkatan permintaan untuk menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses dan lebih meningkatkan keterlibatan pasien.

Untuk memenuhi tuntutan ini, jaringan rumah sakit internasional tersebut melakukan transformasi digital secara lebih serius dibandingkan jaringan rumah sakit lainnya, dengan menciptakan aplikasi untuk pasien dan staf rumah sakit, serta menyediakan layanan kesehatan tepat di ujung jari mereka.

Berbicara kepada Healthcare Asia, CEO Naveen Kumar Mantha menggarisbawahi bahwa Rumah Sakit Columbia Asia memahami bahwa masyarakat ingin lebih terlibat secara aktif dalam perjalanan layanan kesehatan mereka.

“Kenyamanan dan koneksi pasien selalu menjadi prioritas utama kami, dan tujuan utama kami adalah membuat perjalanan kesehatan pasien sesederhana dan seefisien mungkin,” kata Naveen dalam sebuah wawancara eksklusif.

Dengan mengikuti prinsip ini, ia yakin rumah sakit dapat “memastikan bahwa pasien terus mencari perawatan kami, dan dokter dapat memberikan layanan terbaik.”

“Kami merespons tren kualitas, aksesibilitas, dan kenyamanan dengan berinvestasi pada pengalaman layanan kesehatan terbaik dan memperluas jaringan kami,” katanya menambahkan tentang tujuan transformasi digital mereka.

Merangkul digitalisasi

Selama bertahun-tahun, Rumah Sakit Columbia Asia telah mengembangkan ekosistem rumah sakit digital yang mencakup beragam aplikasi untuk pasien dan dokter. Transformasi ini dinilai tidak bisa dihindari, mengingat kenyamanan dan konektivitas menjadi prioritas pasien.

Rumah sakit telah merilis berbagai aplikasi, seperti aplikasi pasien (patient app) yang menyediakan platform yang nyaman bagi pasien untuk mengakses rekam medisnya, menjadwalkan janji temu, memastikan kemudahan akses terhadap informasi pengobatan, dan melakukan pembayaran saat mengakses layanan kesehatan.

Sementara itu, aplikasi untuk dokter (doctor app) digunakan untuk memberdayakan staf medis dalam meningkatkan pelayanan pasien dengan menyediakan akses real-time ke data pasien, sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih tepat dan respons yang lebih cepat.

Keterlibatan pasien juga ditingkatkan melalui aplikasi feedback pasien yang dikenal sebagai Cempia, di mana pasien dapat memberikan masukan mereka.

 “Semua masukan ini sangat penting karena kami belajar dari mereka. Apabila ada masalah, kami akan segera menyelesaikannya dalam waktu 12 jam ke depan. Kami menganalisis masalahnya dan departemen yang bertanggung jawab akan berkomunikasi kembali dengan pasien untuk evaluasi dan perbaikan,” kata Naveen.

“Kami ingin menghadirkan perjalanan pasien yang lebih lancar dan terhubung secara digital di seluruh Rumah Sakit Columbia Asia,” kata dia menambahkan. 

Di masa depan, Columbia Asia akan meningkatkan penggunaan rekam medis elektronik (EMR). Dia mengatakan, penerapan EMR sebenarnya sudah berlangsung lama di jaringan rumah sakit ini.

“Dapat dikatakan bahwa Columbia Asia hampir 100% berhasil dalam mengadopsi sistem EMR” katanya. Jaringan rumah sakit swasta itu tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam mengikuti peraturan Kementerian Kesehatan Indonesia yang telah menetapkan tujuan penerapan EMR di seluruh rumah sakit pada 2024.

Dengan mengadopsi sistem EMR, Naveen mengatakan rekam medis pasien dapat dengan mudah diakses oleh dokter di berbagai lokasi. Saat ini, Columbia Asia sudah menjajaki kemungkinan untuk portabilitas EMR dalam memberikan manfaat bagi pasien yang bepergian dari daerah satu ke daerah lainnya.

“Fokus kami ke depan tidak hanya mengadopsi perangkat lunak terbaru tetapi bagaimana teknologi yang terus berkembang ini dapat meningkatkan layanan kami kepada pasien dan memenuhi kebutuhan mereka” katanya. 

Dalam hal privasi data, CEO Columbia Asia meyakinkan bahwa organisasinya menangani masalah ini dengan serius dengan secara rutin melakukan penilaian keamanan peralatan untuk memantau kerentanan terhadap serangan siber.

“Kami berinvestasi pada infrastruktur yang kuat dan kokoh serta menggunakan platform yang terpercaya,” katanya.

Berorientasi komunitas

Naveen mengatakan bahwa sikap fokus pada pasien (patient-centricity) sangat tercermin dalam pendirian rumah sakit yang berorientasi pada komunitas.

Awalnya, Rumah Sakit Columbia Asia berfokus pada program medis inti seperti penyakit dalam, pediatri, kebidanan & ginekologi, bedah umum, dan ortopedi.

Namun, seiring dengan kemajuan ilmu kedokteran dan teknologi medis serta meningkatnya kebutuhan populasi berusia lanjut, jaringan rumah sakit ini secara alami  merasa harus memperluas program medis mereka untuk mencakup kardiologi, urologi, dan neurologi.

“Kami berusaha memahami kebutuhan dan preferensi komunitas. Layanan kami disesuaikan, berkembang seiring dengan pertumbuhan dan keragaman komunitas,” kata Naveen kepada Healthcare Asia.

 Columbia Asia menargetkan pasien dengan segmentasi menengah ke atas, namun terkadang bingung memilih rumah sakit yang tepat. Oleh karena itu, Columbia Asia berusaha menyediakan rumah sakit yang baik dan layak dengan bangunan yang dirancang sedemikian rupa untuk memberikan kenyamanan kepada pasien.

“Rumah sakit kami sangat bersih, rapi, sejuk dan terang. Ketika pasien datang, mereka tidak akan bertabrakan dengan orang lain, atau merasa sesak atau merasa bingung harus pergi ke mana. Kami mencoba merancang rumah sakit kami dengan menempatkan layanan utama sebagai fokus utama dengan layanan pendukung seperti laboratorium, apotek, dan kafe di sekitarnya yang dipikirkan dengan matang,” kata Naveen.

Selain itu, lokasi rumah sakit juga dipilih secara strategis, dekat dengan masyarakat yang dilayani. “Kami berupaya menjadi pilihan utama bagi pasien dalam radius lima kilometer,” katanya.

Kualitas internasional

Selain aspek kualitas layanan, Columbia Asia juga menjaga konsistensi standar kualitas infrastruktur dan perawatan pasien melalui jaringan rumah sakitnya yang hadir di tiga negara: Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.

“Kehadiran kami di tiga negara tersebut turut menjamin kepercayaan pasien yang dapat kami pertahankan secara konsisten,” kata Naveen. “Kami bangga dengan tampilan standar bangunan kami yang dirancang untuk memberikan rasa nyaman bagi pasien.”

Aspek kedua yang menjamin standar internasional di Rumah Sakit Columbia Asia adalah kepatuhan staf rumah sakit terhadap SOP dan kebijakan yang berlaku.

Mereka juga diaudit secara berkala untuk memastikan kepatuhan terhadap pedoman medis lokal terbaru.

Rencana ke depan

Sejak pertama kali didirikan di Medan pada 2009, Columbia Asia terus memperluas fasilitasnya.

Di Indonesia, rumah sakit ini tersebar di Medan, Jakarta dan Semarang. Tahun ini, di bulan September, jaringan rumah sakit tersebut mengoperasikan dua rumah sakit baru: satu di Aksara, Medan dan satu lagi di BSD, Tangerang Selatan. Hal ini berarti ada dua tambahan baru pada perluasan operasi jaringan rumah sakit swasta tersebut.

Rencana masa depan rumah sakit juga mencakup pengembangan kapasitas tempat tidur rumah sakit yang lebih besar. Saat ini RS Columbia Asia memiliki total 856 tempat tidur.

“Kami merencanakan untuk menyediakan lebih dari 1.000 tempat tidur pada 2025, serta memperluas fasilitas dan layanan di beberapa rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat yang terus meningkat,” kata Naveen.

 Pengembangan fasilitas rumah sakit juga dilakukan di Semarang dan Pulomas, dengan fokus pada peningkatan layanan Center of Excellence (COE), khususnya di Semarang yang akan fokus pada Radioterapi.

Sementara itu, Rumah Sakit Columbia Asia di Medan akan meningkatkan kapasitas tempat tidurnya agar dapat melayani permintaan layanan kesehatan yang terus meningkat di Sumatera Utara dengan lebih baik.

Selain perluasan ini, RS Columbia Aksara Medan dirancang untuk melayani pasien BPJS, memastikan aksesibilitas dan kualitas layanan untuk segmen masyarakat yang lebih luas.

RS Columbia Asia BSD di Tangerang Selatan juga sedang mempersiapkan peningkatan signifikan termasuk peningkatan gedung dan peluncuran kembali layanan.

“Rumah Sakit Columbia Asia berkomitmen untuk terus tumbuh dan berinovasi guna memenuhi kebutuhan kesehatan yang terus berkembang di komunitasnya, dan perluasan serta peningkatan ini merupakan bukti dari komitmen tersebut,” kata Naveen.

RUU data kesehatan Singapura mewajibkan pengaturan pemberian informasi

Untuk memastikan pengungkapan dan pemberian data, Kementerian Kesehatan dapat memberlakukan denda hingga $1 juta atas ketidakpatuhan.

Asuransi melonjak berkat lonjakan wisatawan Hong Kong

CEO Jim Qin dari Zurich Insurance menyatakan tren liburan yang panjang pada warga Hong Kong di 2023, meningkatkan penjualan asuransi perjalanan.

Bank Tabungan Negara (BTN) bertekad meningkatkan pinjaman kepemilikan rumah syariah

Hingga November 2023, aset BTN Syariah telah mencapai Rp49 triliun.

IDCTA: Partisipasi global dapat meningkatkan penjualan kredit karbon Indonesia

Pasar karbon Indonesia yang baru dibuka memiliki sebanyak 71,95% kredit karbon yang belum terjual pada akhir 2023.

MST Golf mengubah lanskap ritel golf di Indonesia

Eksekutif ERAL percaya bahwa kemitraan ini akan mendorong gaya hidup bermain golf di seluruh Asia.

Bagaimana Asia Tenggara dapat mencapai potensi biogasnya

Kawasan ini hanya memiliki sekitar satu gigawatt kapasitas dengan Thailand, Indonesia, dan Malaysia memimpin dalam hal produksi.

Filipina siap untuk transisi energi, tetapi targetnya bisa lebih tinggi

Energi terbarukan negara tersebut menyumbang sebanyak 22% dari bauran energi hingga 2022.

GrandLucky Superstore memanfaatkan customer insight dalam mengkurasi produknya 

Superstore ini kini beroperasi di tujuh lokasi di seluruh Indonesia.

PLN Indonesia Power memimpin langkah dalam efisiensi pembangkitan listrik generasi berikutnya

Setiap tahun, efisiensi energi primer yang dicapai oleh PLN IP setara dengan Rp52,5 miliar (US$3,36 juta).