Bagaimana Qoala memangkas masa tunggu penerbitan polis menjadi hanya satu jam | Asian Business Review
, Indonesia
1144 views

Bagaimana Qoala memangkas masa tunggu penerbitan polis menjadi hanya satu jam

Biasanya, dibutuhkan waktu hingga 14 hari untuk memproses polis asuransi.

Kebanyakan perusahaan di sektor ini masih melakukan proses yang rumit dan manual untuk melayani pelanggannya. Hal ini memakan waktu setidaknya tujuh sampai 14 hari. Sebuah perusahaan insurtech, bernama Qoala, baru-baru ini memperkenalkan teknologi yang dapat memangkas masa tunggu penerbitan polis asuransi menjadi hanya satu jam.

Qoala mulai menggunakan artificial intelligence (AI) di platformnya pada tahun 2020, dua tahun setelah mereka beroperasi.

“AI telah membantu Qoala dalam menggunakan solusi optical character recognition (OCR) untuk mengotomatisasi pemeriksaan identitas sebelum melanjutkan ke proses pendaftaran berikutnya,” kata Founder dan CEO Qoala, Harshet Lunani dalam wawancara eksklusif dengan Insurance Asia.

Ini juga dapat mempercepat validasi data, yang menurut Harshet, mengurangi prosedur yang rumit antara perusahaan asuransi dan klien.

“Qoala OCR membantu mengekstrak data dari dokumen yang diunggah seperti KTP dan SIM. Ini sangat meningkatkan efisiensi kami dalam mengekstraksi data yang diperlukan untuk penerbitan polis tersebut,” kata Harshet.

Terkait proses klaim, platform Qoala membantu dalam menilai objek yang akan diasuransikan. Misalnya, ketika pelanggan ingin mengajukan klaim atas smartphone yang rusak, teknologi Qoala akan menilai terlebih dahulu apakah benar-benar ada kerusakan, seperti layar yang retak. Informasi ini kemudian diserahkan kepada penjamin atau penanggung. Setelah dipastikan bahwa nomor identifikasi smartphone yang diasuransikan atau IMEI cocok, klaim akan disetujui.

Qoala juga memungkinkan perusahaan asuransi untuk mengirim polis elektronik kepada pelanggan mereka baik melalui email atau WhatsApp dan saluran lainnya.

“Peran teknologi difokuskan untuk memberikan lebih banyak kemudahan, transparansi, dan kesempatan untuk memahami asuransi dengan lebih baik tanpa membuat nasabah merasa ditipu,” kata Harshet.

Fokus pada individu

Selama dua tahun terakhir, Harshet mengungkapkan bahwa Qoala telah tumbuh sekitar 30 kali lipat dalam bisnis dan pendapatan. Qoala juga merupakan perusahaan insurtech pertama yang hadir di empat negara, yakni Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

Total tenaga penjualan dan mitra bisnis yang terdaftar di Qoala juga meningkat tajam, dengan lebih dari 50 ribu pemasar. Platformnya, yang digunakan oleh sekitar 50 perusahaan, adalah tempat mereka dapat menjual asuransi sambil mengelola layanan pra-penjualan dan pasca-penjualan. Qoala juga menyediakan beberapa inovasi produk asuransi mikro melalui kerjasama dengan Traveloka, Redbus, DANA, JD.ID, Shopee, Kredivo, Investree, dan lainnya.

Harshet percaya bahwa pertumbuhan Qoala berakar pada strateginya untuk menargetkan ruang asuransi ritel. Individu, jika dibandingkan dengan korporasi, lebih menuntut kemudahan dan kenyamanan akses.

Follow the link for more news on

EDC tingkatkan fasilitas panas bumi Leyte

Hal ini untuk meningkatkan efisiensi, keberlanjutan, dan perpanjangan usia operasional pembangkit.

Radjak luncurkan unit cepat jantung dan stroke untuk tanggap darurat perkotaan

Model ini berpotensi diperluas ke jaringan rumah sakit urban seiring meningkatnya kebutuhan.

Mayapada fokus kurangi kesalahan awal proses laboratorium

Mereka menargetkan hasil pemeriksaan yang lebih konsisten di seluruh jaringan rumah sakit.

A1 Health hentikan penggunaan anestesi desflurane di Indonesia

Langkah ini menurunkan emisi karbon di ruang operasi hingga 25%.

WA Health perluas sistem pesan digital untuk memperkuat respons darurat

Platform ini menggantikan pager, panggilan telepon, dan SMS untuk memangkas keterlambatan koordinasi.

AHCC perkuat layanan kanker lewat program Patient Advisor

Pendamping pasien membangun kepercayaan, menjelaskan prosedur, hingga memastikan tindak lanjut terapi.

DFI Retail perbarui toko Guardian dan IKEA untuk pengalaman belanja lebih cerdas

Bisnis tidak lagi sekadar transaksi, tetapi semakin bersifat advisori.

Mal di Indonesia prioritaskan pembaruan dibanding ekspansi

Perubahan ini mencerminkan fokus Thailand pada leisure dan Jepang pada efisiensi.

Oh!Some mengandalkan retail berbasis pengalaman untuk menarik konsumen

Layout toko interaktif, kolaborasi, dan event langsung bertujuan mendorong kunjungan ulang.

Departemen store di Singapura mengecil, tambahkan konsep kuliner dan wellness

Media sosial dan e-commerce menaikkan ekspektasi konsumen.