Peritel Indonesia manfaatkan digital signage untuk tingkatkan lalu lintas pengunjung
Lippo, Erajaya, dan Kopi Kenangan memakainya untuk promosi.
Peritel di seluruh Indonesia semakin mengandalkan digital signage untuk mendukung tenant, memaksimalkan efisiensi ruang, dan meningkatkan kunjungan, sekaligus membuka sumber pendapatan baru.
Lippo Mall, salah satu operator pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, telah memasang layar LED digital di 69 malnya, ditempatkan di area dengan lalu lintas tinggi seperti pintu masuk dan koridor, kata Santiwati Basuki saat Retail Asia Summit – Indonesia.
Layar ini menyoroti tenant baru, promosi, dan acara mal—dan terintegrasi penuh dengan aplikasi loyalitas Lippo, Styles, yang memiliki lebih dari 200.000 anggota aktif.
“Styles menjembatani dunia digital dan fisik kami, memungkinkan pengguna menemukan promosi, update acara, dan pembukaan toko,” katanya. “Ini memberikan visibilitas dan dukungan digital bagi tenant kami sekaligus mendorong foot traffic ke mal.”
Erajaya Digital juga memanfaatkan digital signage di gerai multi-mereknya untuk meningkatkan visibilitas dan eksposur merek.
“Ini juga menjadi peluang monetisasi,” kata Mark Go. Perusahaan menawarkan paket penempatan berbayar bagi mitra merek, menjadikan signage sebagai aliran pendapatan.
Di FreshMart, supermarket terkemuka di Sulawesi, digital signage dikembangkan untuk lebih dari sekadar menampilkan visual. “Kami juga mengembangkan teknologi agar layar dapat memperbarui harga secara real time, meningkatkan efektivitas promosi,” kata Andy Sumual.
Sementara itu, Kopi Kenangan menekan biaya signage tinggi di Jakarta dengan negosiasi bersama pemilik gedung.
“Signage itu mahal, jadi kami bernegosiasi dengan pemilik gedung untuk mendapatkan dukungan digital saat membuka toko baru,” kata Ananditha Mayasari. Perusahaan juga bermitra dengan platform seperti GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood untuk co-funding kampanye digital.
Selain teknologi, peritel juga merancang ulang penggunaan ruang. Lippo Mall mentransformasikan properti lama agar sesuai dengan perilaku konsumen modern. Plaza Semanggi yang kini menjadi Lippo Mall Nusantara menjadi contoh utama.
“Sejak 2020, kami fokus mentransformasi mal legacy agar tetap relevan dengan gaya hidup yang berubah,” kata Santiwati. “Banyak mal kami berada di lokasi prime, jadi revitalisasi lebih efisien dibanding membangun baru.”
“Kami tidak sekadar merancang toko, tapi merancang pengalaman,” tambahnya.
Kopi Kenangan juga memperbarui desain tokonya. “Pelanggan kami menginginkan ruang, gaya, dan sesuatu yang bisa diposting, jadi kami berinvestasi di area duduk luas dan lingkungan visual menarik yang secara alami menghasilkan konten buatan pengguna,” kata Ananditha. “Toko lebih besar menghasilkan penjualan lebih besar.”
“Ukuran penting, tapi tergantung konteks,” kata Mark Go. “Yang terpenting adalah membuat pengalaman terasa personal… Karena pada akhirnya, tidak ada pelanggan online atau offline; yang ada hanya pelanggan.”