A1 Health hentikan penggunaan anestesi desflurane di Indonesia
Langkah ini menurunkan emisi karbon di ruang operasi hingga 25%.
Asia OneHealthcare (A1 Health) melalui jaringan rumah sakitnya di Indonesia menghentikan penggunaan desflurane, produk anestesi yang memiliki dampak lingkungan jauh lebih besar dibandingkan alternatif lainnya.
Perubahan ini menurunkan emisi karbon di ruang operasi rumah sakit jaringan Columbia Asia Hospitals dan RS Premier sekitar 25% secara keseluruhan, termasuk penurunan hingga 38% pada emisi yang terkait langsung dengan penggunaan desflurane, ujar Alouisius Maseimilian, Country CEO Indonesia A1 Health, kepada Healthcare Asia dalam sebuah wawancara.
“Keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban,” katanya. “Rumah sakit modern tidak hanya bertanggung jawab terhadap pasien, tetapi juga terhadap lingkungan.”
Desflurane menghasilkan sekitar 20 kali lebih banyak gas rumah kaca dibandingkan sevoflurane, obat anestesi yang kini digunakan sebagai penggantinya. Para dokter beralih ke sevoflurane dengan teknik aliran gas rendah (low gas flow), yang menurut rumah sakit tetap memberikan tingkat keamanan dan efektivitas yang sama bagi pasien sekaligus mengurangi konsumsi dan biaya.
Rumah sakit juga memantau penggunaan anestesi dan mengonversinya ke dalam perhitungan emisi karbon. Data tersebut ditampilkan melalui dashboard keberlanjutan digital yang dapat dipantau staf secara real-time. Menurut Maseimilian, transparansi data ini membantu mendorong adopsi di kalangan dokter dan perawat.
Hambatan terbesar justru datang dari sisi budaya kerja. Sebagian staf membutuhkan waktu untuk mengubah kebiasaan, sehingga rumah sakit mengadakan sesi pelatihan, lokakarya internal, serta menunjuk “dokter champion” yang menjadi contoh penerapan di lapangan.
“Perubahan perilaku tidak terjadi dalam semalam,” ujar Maseimilian. “Pelatihan dan kepemimpinan menunjukkan bahwa keberlanjutan dan kualitas layanan dapat berjalan beriringan.”
Program bebas desflurane ini merupakan bagian dari roadmap A1 Health menuju rumah sakit berkelanjutan, yang juga mencakup peningkatan efisiensi energi, pengurangan limbah medis, serta edukasi pasien mengenai praktik berkelanjutan.
“Rumah sakit masa depan bukan hanya tempat penyembuhan, tetapi juga agen perubahan sosial dan lingkungan,” tambahnya. “Kami ingin meninggalkan bukan hanya layanan kesehatan berkualitas tinggi, tetapi juga warisan hijau bagi generasi berikutnya.”