Mal di Indonesia prioritaskan pembaruan dibanding ekspansi
Perubahan ini mencerminkan fokus Thailand pada leisure dan Jepang pada efisiensi.
Basis konsumen yang luas di Indonesia dan terbatasnya ruang ritel modern mendorong pemikiran ulang model pengembangan mal di negara ini, saat operator mengalihkan fokus dari ekspansi ke modernisasi.
Negara dengan lebih dari 278 juta penduduk ini hanya memiliki 0,06 meter persegi ruang ritel modern per kapita—jauh di bawah Singapura dan Thailand—mendorong pengembang untuk mengutamakan efisiensi, keberlanjutan, dan integrasi digital dibanding pembangunan baru.
“Transformasi pusat perbelanjaan di Indonesia tidak lagi soal menambah jumlah, tetapi membuatnya lebih relevan—lebih efisien, lebih hijau, dan lebih manusiawi,” kata Alphonzus Widjaja, chairman Indonesian Shopping Center Management Association, kepada Retail Asia.
Para pengembang berinvestasi dalam kecerdasan buatan (AI) untuk memantau penggunaan energi, menganalisis lalu lintas pengunjung, dan meningkatkan kenyamanan. Banyak mal didesain ulang dengan fitur arsitektur hijau seperti pencahayaan alami, ventilasi terbuka, dan panel surya untuk menurunkan biaya operasional dan mengurangi emisi karbon.
Perubahan ini menjawab keterbatasan pasokan ruang ritel modern sekaligus meningkatnya permintaan akan infrastruktur perkotaan yang hemat energi.
“Teknologi dan keberlanjutan itu penting,” kata Widjaja dalam wawancara. “Namun yang benar-benar mendefinisikan evolusi ritel Indonesia adalah kemampuannya mempertahankan koneksi manusia.”
Perubahan serupa juga terjadi di Asia. Jepang memprioritaskan efisiensi ruang, Thailand menekankan desain mal berorientasi leisure, dan Singapura menjadi yang terdepan dalam fasilitas netral karbon yang menggunakan energi terbarukan.
China, menurut Mall China Development Association, memasuki fase “regenerasi nilai stok,” di mana pengembang merevitalisasi properti yang ada daripada membangun yang baru.
Masa depan ritel fisik bukan tentang menambah ruang, tetapi mengoptimalkannya, kata Ketua Asosiasi Wang Jing dalam Council of Asian Shopping Centers Conference 2025 di Jakarta.
“Tidak lagi menjadi pengikut atau peniru—sektor ritel fisik telah memasuki era kreator,” katanya. “Hanya profesionalisme yang bisa menghadirkan inovasi berkelanjutan.”
Ia menambahkan bahwa mal modern berkembang menjadi venue multi-fungsi yang menggabungkan fungsi komersial dan sosial, berperan sebagai ruang komunitas perkotaan sekaligus destinasi belanja.
Indonesia bergerak ke arah yang sama. Mal menjadi pusat sosial dan budaya, mengintegrasikan keberlanjutan dan teknologi pintar sambil mencerminkan gaya hidup lokal.
“Isu bukan berapa banyak mal yang dibangun,” kata Widjaja. “Tetapi bagaimana membangun mal yang berarti—yang menggabungkan keberlanjutan, teknologi, dan identitas sosial Indonesia.”