Nasabah wealth beralih ke private market demi imbal hasil lebih tinggi
Perusahaan teknologi AS menjadi pendorong utama minat investasi, kata firma wealth digital StashAway.
Permintaan terhadap diversifikasi investasi mulai mengubah cara investor ritel mengelola kekayaan, dengan meningkatnya minat pada private market—segmen yang sebelumnya lebih banyak diakses institusi besar.
Sejumlah dana investasi private kini memperluas layanan mereka untuk menjangkau investor individu, kata Stephanie Leung, Chief Investment Officer StashAway Hong Kong Ltd.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat kombinasi faktor pendorong dan penarik,” ujarnya kepada Asian Banking & Finance. “Faktor penariknya adalah investor menginginkan imbal hasil yang lebih tinggi. Faktor pendorongnya, banyak private fund mulai membuka akses dengan nilai investasi yang lebih kecil bagi investor individu.”
Private market—yang mencakup private equity, venture capital, dan aset non-publik lainnya—secara historis dikenal mampu menghasilkan return lebih tinggi dibanding saham dan obligasi yang diperdagangkan di bursa.
Namun, akses ke segmen ini selama bertahun-tahun sangat terbatas. Persyaratan investasi minimum yang sering mencapai jutaan dolar membuat pasar tersebut didominasi dana pensiun, endowment, dan perusahaan asuransi.
Eksklusivitas itu kini mulai berkurang seiring perkembangan platform teknologi finansial yang membawa strategi investasi private market ke investor skala lebih kecil. “Kami membangun penawaran private market karena memang ada permintaan langsung dari nasabah,” kata Leung dalam wawancara video.
Perubahan ini juga mencerminkan pergeseran alokasi kekayaan yang lebih luas. Selama puluhan tahun, pasar properti Hong Kong menjadi mesin utama pertumbuhan kekayaan banyak keluarga. Namun sejak 2021, sektor tersebut mengalami perlambatan akibat pembatasan pandemi, tekanan ekonomi dari Tiongkok, serta kenaikan suku bunga.
“Ke depan, imbal hasil dari pasar properti kemungkinan tidak lagi sebesar yang kita nikmati selama 20–30 tahun terakhir,” kata Leung.
Meski sejumlah analis melihat tanda pemulihan—S&P memproyeksikan penjualan properti residensial mencapai 20.000 unit pada 2025, tertinggi sejak 2019—banyak investor mulai mencari peluang investasi lain. Salah satu fokus utama adalah sektor teknologi di Amerika Serikat.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat kebangkitan perusahaan teknologi di AS dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ini menghadirkan banyak peluang yang tidak tersedia di sini,” ujarnya.
Ia mencontohkan OpenAI dengan valuasi sekitar US$500 miliar yang menjadikannya perusahaan private paling bernilai di dunia, serta SpaceX yang berada pada kisaran valuasi serupa. “Banyak perusahaan raksasa dengan kapitalisasi besar kini bertahan lebih lama sebagai perusahaan private.”
Tren ini turut menguntungkan platform wealth digital seperti StashAway, yang menawarkan akses lebih mudah ke private fund dengan batas investasi yang lebih rendah. Selama ini, ambang investasi yang tinggi serta periode lock-up yang panjang membuat investor muda sulit masuk.
“Segmen ini sebenarnya memiliki likuiditas yang cukup untuk berinvestasi, tetapi pilihan yang tersedia sangat terbatas dan sering kali disertai banyak syarat, seperti minimum investasi yang tinggi dan lock-up period,” kata Leung.
StashAway memposisikan diri sebagai penasihat wealth digital “dengan sentuhan manusia”, menawarkan akses private equity mulai dari US$20.000—jauh lebih rendah dibanding standar institusi. Perusahaan juga menyediakan penasihat obligasi khusus bagi nasabah pada tier investasi tertentu, dengan pendekatan yang disesuaikan terhadap tujuan finansial masing-masing.
“Ini memberikan cara yang lebih mudah bagi profesional muda maupun investor affluent untuk melakukan diversifikasi portofolio, baik melalui instrumen publik maupun private,” ujarnya.
Demografi utama StashAway, yakni profesional berusia 30 hingga 45 tahun, umumnya menuntut fleksibilitas serta kemudahan digital. Mereka lebih terbiasa mengelola keuangan melalui smartphone dibanding melalui penasihat perbankan tradisional.
“Misalnya hari ini saya punya ide investasi dan ingin mengalokasikan ulang portofolio. Saya ingin melakukannya langsung, bukan harus menelepon wealth advisor yang mungkin sedang tidak tersedia,” kata Leung.
Dengan akses aplikasi selama 24/7, investor dapat memantau sekaligus menyesuaikan portofolio secara instan. “Sebagian besar nasabah kami, terutama yang sangat melek teknologi, sudah sangat terbiasa mengelola investasi sendiri melalui aplikasi, di mana pun mereka berada. Ini adalah tren yang tidak akan hilang,” tutupnya.