Ciputra Life bidik pertumbuhan nasabah di luar jaringan grup
Permintaan manfaat kesehatan yang meningkat mendorong penguatan kerja sama dengan perusahaan dan perbankan.
Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) memperluas kanal distribusi asuransi korporasi dan digital sebagai strategi pertumbuhan, seiring fokus perusahaan untuk memperbesar kemitraan di luar jaringan bisnis Grup Ciputra.
Presiden Direktur Ciputra Life Hengky Djojosantoso mengatakan perusahaan menargetkan kolaborasi dengan lebih banyak perusahaan dan bank, sambil terus memodernisasi operasional guna meningkatkan kecepatan layanan dan kualitas pelayanan. “Kemitraan memungkinkan kami menjangkau lebih banyak nasabah dan merancang produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan finansial mereka,” ujarnya kepada Insurance Asia.
Ia menambahkan bahwa segmen employee benefit kini menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan, dengan lebih dari 30.000 karyawan telah tercakup dalam polis asuransi jiwa dan kesehatan grup yang terhubung dengan jaringan rumah sakit Ciputra.
Meningkatnya kebutuhan terhadap manfaat kesehatan juga mendorong perusahaan memperdalam hubungan dengan klien korporasi dan institusi keuangan.
Di sisi operasional, Ciputra Life telah mendigitalisasi sebagian besar proses front-end, memungkinkan pengajuan klaim dan pembaruan polis dilakukan melalui WhatsApp dan email. Perusahaan saat ini tengah mengembangkan platform digital terintegrasi yang menggabungkan layanan e-claims, e-policy, dan analitik data untuk mengurangi proses manual serta meningkatkan aksesibilitas layanan.
Per September 2025, ekuitas Ciputra Life tercatat sebesar US$16,6 juta (Rp278 miliar), masih berada di atas ketentuan modal minimum yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Total aset mencapai US$74,2 juta (Rp1,23 triliun), meningkat dari US$59,7 juta (Rp997 miliar) pada 2024. Aset investasi juga naik menjadi US$60,1 juta (Rp1,00 triliun) dari US$48,9 juta (Rp817 miliar) setahun sebelumnya, sementara total pendapatan premi mencapai US$21,9 juta (Rp365 miliar).
Sekitar dua pertiga portofolio bisnis perusahaan kini berasal dari kemitraan eksternal, meningkat dari sekitar 40% dua tahun lalu. “Baik bisnis internal maupun eksternal sama-sama tumbuh, tetapi ekspansi di luar grup berkembang lebih cepat,” kata Hengky.
Perusahaan juga memperluas program asuransi mikro dengan premi tahunan mulai dari sekitar US$0,90 (Rp15.000). Produk ini didistribusikan melalui sekolah dan komunitas untuk memperluas akses asuransi sekaligus meningkatkan literasi keuangan di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.
Dengan tingkat penetrasi asuransi jiwa di Indonesia yang masih di bawah 3% dari produk domestik bruto, Ciputra Life melihat ruang pertumbuhan yang masih sangat besar.
Hengky menegaskan, perusahaan ingin menangkap peluang tersebut melalui kombinasi kemitraan korporasi, digitalisasi layanan, serta produk inklusif yang ditujukan bagi pemegang polis baru.