Hong Kong longgarkan aturan berbagi informasi untuk berantas fraud perbankan | Asian Business Review
3495 views
Photo by Jimmy Whitson via Unsplash.

Hong Kong longgarkan aturan berbagi informasi untuk berantas fraud perbankan

Perubahan aturan ini memungkinkan bank berbagi data lebih luas tanpa khawatir risiko hukum.

Hong Kong merevisi ordinansi perbankannya untuk memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi institusi keuangan dalam berbagi informasi terkait dugaan penipuan, pencucian uang, dan pendanaan terorisme. Langkah ini dinilai regulator akan meningkatkan efektivitas penanganan kejahatan finansial sekaligus mengurangi gangguan sistem akibat fraud.

Banking (Amendment) Ordinance 2025 memperkenalkan mekanisme safe harbour yang memberikan perlindungan hukum bagi institusi yang diizinkan ketika berbagi data untuk mendeteksi atau mencegah aktivitas terlarang. Perubahan ini diharapkan mendorong bank lebih proaktif dalam menandai rekening mencurigakan dan menghentikan aliran dana ilegal.

“Ordinansi ini memberikan perlindungan hukum tertentu kepada institusi yang diizinkan, sekaligus tetap mewajibkan mereka menjaga kerahasiaan dan keamanan informasi,” kata Raymond Chan, Executive Director for Enforcement and Anti-Money Laundering di Hong Kong Monetary Authority, kepada Asian Banking & Finance.

Menurut Chan, perlindungan hukum tersebut memungkinkan institusi keuangan berbagi informasi yang lebih luas tanpa takut menghadapi tanggung jawab hukum. Ia berharap langkah ini dapat meningkatkan jumlah rekening mencurigakan yang teridentifikasi, memperbesar peluang intersepsi dana ilegal, serta memungkinkan pengembalian dana kepada korban penipuan.

Ia juga menilai penguatan pertukaran data dapat membantu kepolisian menindak pelaku kriminal yang memanfaatkan sistem perbankan Hong Kong.

Aturan baru ini mengizinkan berbagi data ketika bank menemukan aktivitas yang mengindikasikan keterlibatan dalam tindakan terlarang. Namun, Chan menegaskan ambang batasnya tetap lebih tinggi dari sekadar kecurigaan dasar. “Kami tidak membayangkan adanya pertukaran data antarbank tanpa dasar kecurigaan dalam konteks ini,” ujarnya.

Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari Financial Intelligence Evaluation Sharing Tool yang diluncurkan pada 2023 oleh bank sentral Hong Kong bersama Kepolisian Hong Kong dan Hong Kong Association of Banks. Platform tersebut telah mendukung lebih dari 1.200 laporan terkait rekening korporasi yang mencurigakan.

Meski demikian, Chan menyoroti bahwa rekening korporasi hanya sebagian dari persoalan. “Sekitar 90% rekening yang digunakan untuk memindahkan dan menyamarkan hasil kejahatan, atau yang dikenal sebagai mule accounts, justru dimiliki individu, bukan korporasi,” katanya.

Platform tersebut kini tengah diperluas agar mencakup rekening individu, dengan peluncuran yang direncanakan pada akhir tahun ini.

Partisipasi dalam sistem yang diperluas tetap bersifat sukarela. Chan menilai kewajiban berbagi informasi secara mandatory justru berpotensi kontraproduktif karena dapat memicu lonjakan laporan berkualitas rendah dan membebani proses operasional bank.

Ia juga menyoroti masalah dalam pelaporan transaksi mencurigakan atau Suspicious Transaction Reports (STR). Karena risiko sanksi jika gagal melapor, banyak bank cenderung melakukan pelaporan defensif ketika terdapat keraguan. “Kami ingin pertukaran informasi lebih terfokus dan menghasilkan intelligence yang bisa ditindaklanjuti, dalam bentuk STR yang lebih berkualitas,” ujarnya.

Di sisi lain, bank sentral Hong Kong juga memperkuat perlindungan konsumen. Pada Desember 2024, regulator meluncurkan fitur Money Safe, serupa konsep “money lock” di Singapura, yang memungkinkan nasabah memisahkan sebagian dana simpanan hingga proses verifikasi anti-fraud selesai.

Langkah lain yang diterapkan mencakup sistem autentikasi dalam aplikasi yang mengutamakan perangkat terikat dibandingkan kode OTP melalui SMS, opsi menonaktifkan fitur digital banking berisiko tinggi, peringatan real-time untuk membatalkan transaksi mencurigakan, serta teknologi deteksi deepfake.

Chan menilai kombinasi antara berbagi data lintas industri dan penguatan perlindungan konsumen akan membantu bank merespons kasus fraud dan pencucian uang dengan lebih cepat dan efektif.

Follow the link for more news on

Perempuan kaya di Asia-Pasifik dorong perombakan perencanaan warisan

Pertumbuhan yang stabil dan keterlibatan sejak dini mengubah pendekatan advisory, dari sekadar transfer transaksional menjadi proses yang lebih menyeluruh.

Sun Life Filipina genjot tenaga penjualan dan bancassurance di bawah CEO baru

Perusahaan ini terus mendorong penetrasi asuransi di negara yang menganggap kematian dan uang sebagai topik tabu.

Wong Sze Keed bangun budaya yang mengutamakan manusia di AIA

"Kepemimpinan harus berpijak pada kejelasan, keberanian, dan kemanusiaan.

HDI Global incar pertumbuhan asuransi komersial dan siber di Jepang

Siber merupakan salah satu risiko yang paling cepat berkembang, dan Jepang masih memiliki ruang untuk tumbuh di pasar asuransi siber ini.

Shweta Swaroop dari Howden dorong transparansi data gaji di industri asuransi

Keterbukaan data yang jelas mendorong akuntabilitas dan perubahan nyata untuk menutup kesenjangan gender.

Tata kelola yang lebih baik dorong kepemimpinan perempuan, kata Leah Ng dari Manulife

Kesetaraan tidak bisa hanya mengandalkan niat baik, harus dibangun dalam sistem.

Nina Ong dorong pembaruan AI dan talenta di Great Eastern Life

Bos besar ini kaitkan keunggulannya dengan keberagaman dimana lebih dari sepertiga posisi senior diisi perempuan.

Perusahaan asuransi Hong Kong catat kinerja melemah pada 2024 seiring penurunan premi

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Otoritas Asuransi (Insurance Authority) untuk tahun fiskal 2024.

Perusahaan asuransi Asia-Pasifik hadapi beban teknologi usang senilai $200 miliar

Teknologi usang dan proses kerja yang telah mengakar terus menghambat operasional.

Investasi energi terbarukan Asia-Pasifik melaju lebih cepat dari efisiensi pengadaan

Pengembang soroti hambatan jaringan, kontrak, dan dokumentasi.