Indonesia cement glut quickens low-carbon shift
Pasar tak lagi memberi penghargaan bagi ekspansi kapasitas.
Industri semen Indonesia terjebak dalam perangkap utilisasi rendah, dan para produsen kini dipaksa bersaing dalam hal efisiensi dan kinerja karbon, bukan lagi volume, seiring kelebihan pasokan yang tak kunjung mereda.
Tingkat pemanfaatan semen nasional bertahan di angka 54% pada 2025, menurut laporan pasar dan keberlanjutan PT Cemindo Gemilang Tbk yang dirilis pada 23 Januari, menegaskan bagaimana kelebihan kapasitas telah mengubah dinamika persaingan di perekonomian terbesar Asia Tenggara ini.
“Di pasar yang mengalami oversupply, daya saing kini semakin ditentukan oleh efisiensi dan kinerja karbon, bukan ekspansi volume,” kata Surindro Kalbu Adi, direktur komersial dan logistik Cemindo, dalam balasan tertulis melalui email. “Dengan utilisasi yang secara struktural rendah, pasar tidak lagi memberi penghargaan bagi ekspansi kapasitas.”
Dengan kelebihan kapasitas yang diperkirakan lebih dari 56 juta ton, penambahan lini produksi tidak lagi berujung pada pertumbuhan.
Mengapa ini penting: Produsen semen tengah menghadapi reset struktural. Dengan permintaan yang lesu dan kapasitas yang sudah terkunci, margin kini semakin ditentukan oleh biaya energi, intensitas emisi, dan bauran produk — bukan seberapa banyak semen yang bisa dijual perusahaan.
Bagi investor dan pembuat kebijakan, arah sektor ini mengisyaratkan konsolidasi, belanja dekarbonisasi, dan persaingan yang semakin ketat antarpemain lama.
Permintaan domestik melemah tahun lalu seiring melambatnya belanja infrastruktur, termasuk proyek-proyek yang terkait dengan rencana pemindahan ibu kota Indonesia ke Nusantara.
Penjualan semen nasional turun sekitar 1,5% secara tahunan menjadi 63,85 juta ton pada 2025. Pertumbuhan terutama terkonsentrasi di Indonesia bagian timur, sementara permintaan di Jawa dan pasar-pasar utama lainnya justru melemah.
Bagi Cemindo, keberlanjutan telah bergeser dari sekadar kewajiban regulasi menjadi strategi bisnis.
Melalui mereknya, Semen Merah Putih, perusahaan mencatat pertumbuhan 4,2% di pasar-pasar utamanya pada 2025, meski volume industri secara keseluruhan menurun, menunjukkan bahwa bauran produk dan pengendalian biaya menjadi pendorong pertumbuhan di tengah pasar yang stagnan.
Energi tetap menjadi biaya dan sumber emisi terbesar bagi industri ini. Cemindo mengoperasikan sistem waste heat recovery dengan total kapasitas 30 megawatt di Indonesia dan 13 megawatt di Vietnam, yang memasok sekitar 24% kebutuhan energi produksi klinker dan memangkas sekitar 100.000 ton emisi karbon dioksida per tahun.
“Setiap penurunan penggunaan energi dan faktor klinker turut meningkatkan efisiensi operasional,” kata Surindro, seraya menambahkan bahwa dekarbonisasi dan pengendalian biaya kini semakin sulit dipisahkan.
Dari 2016 hingga 2024, Cemindo memangkas emisi karbon per ton semen sekitar 21% dengan memperbaiki desain premix dan meningkatkan penggunaan material seperti fly ash, sehingga menekan penggunaan energi dan biaya di tengah melemahnya daya tawar harga.
Perusahaan juga memperluas upaya pemangkasan emisi hingga ke luar pabrik. Cemindo telah mengoperasikan 17 truk tambang listrik dan 23 forklift listrik, memangkas sekitar 8.500 ton emisi karbon dioksida per tahun dan membawa aspek logistik masuk ke dalam strategi biaya dan karbon perusahaan.
Bauran produk pun menjadi pembeda lain. Produk berkadar klinker rendah seperti FLEXIPLUS, ECOPRO, Semen Patriot, dan Watershield kini menyumbang sekitar 81% dari portofolio Semen Merah Putih, jauh di atas rata-rata industri yang sebesar 71%.
Seluruh produk tersebut mengantongi sertifikasi Green Label Indonesia, sebagian besar pada level Platinum.
“Semen hijau bukan lagi sekadar ceruk premium,” kata Surindro. “Ia tengah menjadi model operasional standar di pasar yang padat dan diatur ketat.”
Sinyal permintaan mulai mencerminkan pergeseran tersebut. Semen hidraulik, termasuk FLEXIPLUS, melonjak lebih dari tujuh kali lipat tahun lalu dan ditargetkan tumbuh lagi sebesar 20,7% tahun ini, seiring para pengembang mulai mempertimbangkan faktor emisi dan daya tahan dalam keputusan pengadaan mereka.
“Transisi menuju material konstruksi yang lebih berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi industri,” kata Oza Guswara, general manager sales and marketing Semen Merah Putih. “Pelanggan kini mulai menilai semen bukan hanya dari kekuatannya, tetapi juga dari profil karbon dan daya tahan jangka panjangnya.”
Bagi industri semen Indonesia, rendahnya utilisasi kapasitas kemungkinan akan terus berlanjut, menjadikan efisiensi, keandalan, dan kinerja karbon sebagai keunggulan utama, sementara para pemain yang lambat beradaptasi akan terus menghadapi tekanan margin di tengah standar yang semakin ketat dan permintaan yang tidak merata.
“Keberlanjutan harus berjalan di seluruh ekosistem, dari produsen hingga kontraktor, agar efisiensi dan kualitas bergerak beriringan,” kata Surindro.