Asia Tenggara hadapi ketimpangan akses urologi seiring permintaan melampaui ketersediaan spesialis
Beberapa rumah sakit kekurangan perawatan dan bahan habis pakai untuk prosedur tingkat lanjut.
Layanan urologi di Asia Tenggara berada di bawah tekanan, karena perawatan spesialis masih terkonsentrasi di kota-kota besar, sehingga rumah sakit di wilayah pedesaan dan sekunder kekurangan kapasitas di tengah permintaan yang terus meningkat.
"Kelangkaan ahli urologi di Asia Tenggara sebenarnya mencerminkan keberagaman dan ketimpangan yang lebih luas di seluruh sistem layanan kesehatan di kawasan ini," kata Wong Yau Chung, group CEO di Advanced MedTech Holdings, kepada Healthcare Asia. "Tantangannya bukan hanya soal kelangkaan absolut, tetapi juga distribusi yang tidak merata."
Wong menyebut Indonesia, Filipina, dan Vietnam sebagai pasar di mana permintaan pasien meningkat lebih cepat dibandingkan pasokan tenaga spesialis, sementara sistem yang lebih maju seperti Singapura, Jepang, dan China memiliki kapasitas klinis yang lebih kuat.
"Negara-negara yang berbeda beroperasi pada tingkat kematangan yang berbeda-beda, yang berarti rumah sakit menghadapi kendala yang bervariasi dari sisi pendanaan, akses, dan kesiapan untuk mengadopsi teknologi baru," katanya dalam jawaban tertulis melalui email.
Wong mengatakan ketimpangan ini mendorong beban kasus yang lebih berat di rumah sakit-rumah sakit perkotaan, waktu tunggu yang lebih lama, dan tekanan yang semakin besar bagi para klinisi yang menangani prosedur-prosedur kompleks. Populasi yang menua dan meningkatnya angka penyakit metabolik juga turut mendorong permintaan terhadap layanan urologi di seluruh kawasan, katanya.
"Permintaan meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan sistem untuk beradaptasi; bukan hanya dari sisi jumlah tempat tidur atau peralatan, tetapi juga dari sisi tenaga kerja, alur kerja, dan integrasi," kata Kenneth Chen, associate professor sekaligus chairman Robotic Surgery Committee di Singapore General Hospital, dalam jawaban tertulis melalui email.
Ia mengatakan rumah sakit tidak hanya menghadapi volume pasien yang lebih tinggi, tetapi juga kasus-kasus yang lebih kompleks yang membutuhkan keterampilan khusus.
"Secara khusus di bidang urologi, meningkatnya kompleksitas prosedur seperti laser, robotik, dan teknik bedah invasif minimal membutuhkan tim yang terlatih dengan sangat baik," kata Chen.
Ia menambahkan bahwa keterbatasan tenaga kerja tetap ada bahkan di sistem-sistem yang telah memperluas kapasitas operasinya, dengan kelangkaan yang paling terlihat pada peran-peran pendukung spesialis di seluruh layanan bedah dan rawat jalan.
Kasus-kasus urologi juga semakin bersifat kronis, meningkatkan tekanan jangka panjang pada layanan, kata Chen. Ia menyebut batu ginjal yang membutuhkan tindak lanjut berulang, bersama dengan hiperplasia prostat jinak (benign prostatic hyperplasia) dan kanker prostat yang membutuhkan pemantauan dan penanganan.
"Pasien urologi yang biasa kami tangani sekarang cenderung lebih tua dan memiliki berbagai penyakit penyerta (komorbiditas) seperti diabetes, penyakit ginjal kronis, dan penyakit kardiovaskular, yang berarti risiko peri-operatif yang lebih tinggi," kata Chen.
Ia mengatakan kesenjangan infrastruktur juga membatasi penyediaan pengobatan urologi tingkat lanjut, bahkan di tempat-tempat yang sudah memiliki peralatan. "Ini bukan sekadar soal kurangnya teknologi; ini soal kurangnya sistem yang mendukung teknologi tersebut," tambahnya.
Chen mengatakan layanan endourologi bergantung pada laser, bahan habis pakai, sistem perawatan (maintenance), dan staf pendukung terlatih yang bekerja sama, yang kondisinya tidak konsisten di seluruh kawasan.
"Di banyak wilayah Asia Tenggara, satu atau lebih dari komponen-komponen ini tidak tersedia, dan itu membatasi apa yang sebenarnya bisa Anda berikan," katanya.
Wong mengatakan rumah sakit semakin banyak menggunakan alat-alat alur kerja (workflow tools) dan kecerdasan buatan (AI) untuk mengelola tekanan permintaan. Ia menyebut UroGPT, yang dikembangkan oleh Dornier MedTech GmbH, yang membantu mengelola komunikasi rutin dengan pasien sebelum dan sesudah prosedur.
Wong mengatakan AI saat ini paling tepat diposisikan dalam peran pendukung, sementara wewenang pengambilan keputusan tetap berada di tangan para klinisi. "AI dalam layanan kesehatan akan berkembang secara bertahap, bukan secara disruptif," katanya.
Ia menambahkan bahwa Advanced MedTech Holdings menyediakan sistem laser endourologi melalui kemitraan distribusi dan tengah memperluas perangkat sekali pakai (single-use devices) serta bahan habis pakai bagi rumah sakit dengan infrastruktur yang terbatas.
Wong mengatakan pelatihan yang terstruktur tetap menjadi hal yang esensial, dengan kemitraan antara rumah sakit dan universitas yang memastikan standar prosedur yang konsisten.
Chen mengatakan pergeseran utama yang dibutuhkan bukan hanya sekadar memperluas kapasitas, tetapi juga merancang ulang sistem penyampaian layanan (care delivery systems).
"Langkah maju berikutnya bukan sekadar menambah kapasitas; melainkan sistem yang lebih cerdas—triase yang lebih baik, layanan komunitas yang lebih kuat, dan penggunaan teknologi yang lebih efisien," katanya.