Insurtech asia bergeser dari sekadar hype ke fundamental yang lebih kuat
Investor mulai beralih ke perusahaan dengan jalur yang lebih jelas menuju profit.
Investor teknologi asuransi (insurtech) di kawasan Asia-Pasifik (APAC) semakin mengarahkan modal ke perusahaan embedded insurance dan infrastruktur asuransi, seiring pendanaan di sektor ini yang makin sulit didapat, menurut para analis.
“Investor semakin banyak mendukung perusahaan yang menopang ekosistem asuransi yang lebih luas, termasuk platform distribusi, pemain akses kesehatan, infrastruktur data, dan jalur embedded insurance,” kata Paul Sommerin, managing director di NTT DATA Group Corporation, kepada Insurance Asia.
Menurut laporan NTT DATA yang terbit Juni lalu, pendanaan insurtech di kawasan APAC turun jadi sekitar US$4,1 miliar pada periode 2022-2025, dari sebelumnya US$9,1 miliar pada 2018-2021, sementara jumlah transaksi turun dari 383 menjadi 202.
Pergeseran ini mencerminkan perpindahan fokus dari bisnis yang mengejar pertumbuhan pelanggan secara cepat, ke perusahaan dengan jalur yang lebih jelas menuju profit, kata Sommerin.
“Seperti disebutkan dalam Insurtech Global Outlook 2026 kami, pasar sedang bergeser dari challenger insurer menjadi ecosystem orchestrator, dan pola pendanaan di kawasan APAC mencerminkan pergeseran itu,” katanya lewat email menjawab pertanyaan.
Laporan tersebut juga mencatat, porsi pendanaan China di kawasan ini menurun, sementara Singapura, Indonesia, dan India justru menarik porsi investasi yang lebih besar.
Sommerin menyebut Singapura diuntungkan oleh kepastian regulasi serta posisinya sebagai hub distribusi asuransi lintas negara dan bisnis embedded-insurance.
Pertumbuhan India didukung oleh infrastruktur digital seperti Aadhaar, Unified Payments Interface, dan Open Network for Digital Commerce, yang menekan biaya onboarding pelanggan dan distribusi.
Ia menambahkan, Indonesia menarik minat investor lewat populasinya yang besar dan masih underinsured, serta kemitraan yang terus berkembang antara perusahaan asuransi, platform e-commerce, dan penyedia pembayaran.
Ross Sinclair, CEO di EIP Ltd., menyebut investor menjadi lebih selektif seiring sektor ini yang makin matang.
“Investor ingin melihat jalur yang kredibel menuju profitabilitas, dan bukti bahwa teknologinya benar-benar menyelesaikan masalah nyata pelanggan,” katanya lewat email menjawab pertanyaan.
“Industri ini sedang matang, jadi wajar kalau bisnis yang paling sukses nantinya adalah yang bisa mengubah janji-janji di pitch deck jadi kinerja finansial yang nyata, sekaligus membuktikan teknologinya benar-benar bekerja andal di dunia nyata,” tambahnya.
Kedua analis sepakat, investor kini lebih menekankan pada ekonomi bisnis, ketimbang soal apakah perusahaan menjual langsung ke konsumen atau ke perusahaan asuransi.
"Garis pembedanya sebenarnya bukan business-to-consumer versus business-to-business, melainkan ekonomi yang berkelanjutan versus perusahaan yang mengejar pertumbuhan dengan biaya berapa pun," kata Sinclair.
Sommerin menyebut kecerdasan buatan (AI) tetap jadi ujian utama bagi sektor ini, seiring perusahaan asuransi mulai beralih dari proyek pilot ke penerapan yang lebih luas.
“Kebanyakan karyawan asuransi sekarang sudah memakai AI dalam pekerjaan sehari-hari mereka, tapi baru sekitar satu dari lima perusahaan asuransi yang benar-benar menerapkannya dalam alur kerja inti,” katanya.
Laporan EIP Ltd. yang terbit Februari lalu menemukan bahwa 90% profesional senior di industri asuransi memperkirakan proses klaim end-to-end akan sepenuhnya dikelola AI dalam 24 bulan ke depan. Di saat yang sama, 87% menyatakan kekhawatiran soal bias, dan 99% menyebut tetap perlu ada tingkat pengawasan manusia.
“Bisnis paling kuat nantinya adalah yang bisa memadukan AI dengan keahlian asuransi yang mendalam, distribusi yang kuat, kapabilitas regulasi, serta eksekusi yang terbukti,” pungkas Sinclair.