Bencana beruntun ungkap celah asuransi di Filipina
Hanya 10 dari 51 perusahaan asuransi nonlife yang tergabung dalam pool risiko bencana.
Pool asuransi sektor swasta untuk bencana besar di Filipina menghadapi ujian gempa bumi besar pertamanya pada Juni lalu, namun klaim yang dilaporkan masih terbatas, menyisakan pertanyaan apakah pool tersebut mampu menyerap kerugian dalam skala besar.
Philippine Catastrophe Insurance Facility (PCIF), yang menghimpun risiko gempa bumi dari sejumlah perusahaan asuransi, diuji oleh gempa berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Provinsi Sarangani di bagian selatan negara tersebut pada Juni lalu.
"Memasuki tahun kedua program ini pada 2026, PCIF berfungsi sebagaimana mestinya dan membantu retensi risiko utama (primary retention)," ujar Hemant Nagpal, Regional Director and Head of Analytics for Asia-Pacific di Gallagher Re Ltd., dalam jawaban tertulis melalui email.
Ia menjelaskan bahwa gempa tersebut menjadi "uji operasional awal yang penting", namun belum benar-benar menguji kapasitas finansial fasilitas ini secara berarti, mengingat kerugian yang dilaporkan masih terbatas.
National Disaster Risk Reduction and Management Council mencatat 92 korban jiwa, 1.316 orang luka-luka, dan 20 orang hilang di seluruh wilayah Mindanao per 7 Juli.
Insurance Commission (IC), Philippine Insurers and Reinsurers Association (PIRA), serta National Reinsurance Corporation of the Philippines meluncurkan PCIF pada Juli 2025. Fasilitas ini mencakup risiko gempa bumi dan dirancang untuk menahan kerugian secara domestik sebelum mengalihkan kerugian ekstrem ke perusahaan reasuransi.
Terbatasnya klaim ini juga mengungkap kesenjangan yang lebih luas dalam asuransi bencana (catastrophe insurance). Swiss Reinsurance Company Ltd. memperkirakan tingkat ketahanan bencana (catastrophe resilience) di kawasan Asia berkembang hanya sebesar 5%, jauh di bawah 29,1% di negara-negara maju kawasan Asia-Pasifik.
Menurut IC, penetrasi asuransi di Filipina mencapai 2% pada kuartal pertama (Q1), menempatkan tingkat cakupan asuransi negara ini di antara yang terendah di ASEAN.
Mindanao menghadapi kesenjangan yang bahkan lebih besar. Insular Life Assurance Company Ltd. mengungkapkan bahwa wilayah tersebut hanya menyumbang 9,5% dari total penjualan year-to-date 2026 perusahaan.
“Yang menjadi tantangan di Mindanao adalah keberadaan perusahaan asuransi cenderung menjadi faktor kunci dalam keputusan membeli polis," ujar Jose Eduardo Ang, Chief Product and Innovation Officer di Insular Life, kepada Insurance Asia melalui Zoom.
Ia menyebut distribusi, kesesuaian produk, dan harga sebagai sejumlah hambatan utama.
Direktur Eksekutif PIRA, Michael Ferre Rellosa, mengatakan penurunan premi saja tidak akan cukup untuk mengatasi kesenjangan cakupan asuransi bencana.
"Premi yang tidak mencerminkan risiko sesungguhnya bukanlah diskon; itu adalah gagal bayar yang ditunda,” ujarnya dalam jawaban tertulis melalui email. “Polis termurah di dunia sekalipun tidak ada artinya jika perusahaan asuransi tidak sanggup membayar klaim saat bencana benar-benar terjadi, dan pasar yang mematok harga berdasarkan kondisi iklim di masa lalu sebenarnya tengah menumpuk potensi kegagalan itu secara diam-diam.”
Ia menambahkan bahwa perusahaan asuransi perlu memadukan skema risk pooling dan asuransi parametrik—yang membayar klaim ketika bencana mencapai ambang batas yang disepakati—dengan dukungan pemerintah yang tepat sasaran serta langkah-langkah mitigasi risiko bencana.
Perdebatan mengenai perluasan cakupan asuransi bencana ini kian mendesak beberapa minggu kemudian, ketika Topan Bavi—yang dikenal secara lokal sebagai Inday—menghantam Sarangani dan menewaskan 10 orang akibat tanah longsor.
PCIF untuk saat ini baru mencakup risiko gempa bumi, sementara cakupan topan dan banjir belum dimasukkan demi menjaga kesederhanaan fasilitas tersebut.
Rellosa menyebut pool ini berpotensi diperluas untuk mencakup lebih banyak jenis bencana alam ke depannya. “Untuk saat ini baru gempa bumi, tapi gagasan besarnya adalah seluruh risiko bencana alam nantinya akan tercakup. Mungkin dalam waktu sekitar satu tahun lagi," tambahnya.
PIRA berencana memperluas pool ini untuk mencakup risiko topan dan banjir, meninjau ulang tarif premi, serta menambah jumlah anggota. PIRA juga berencana meluncurkan pool asuransi pertanian pada Q1 2027.