Super El Niño berpotensi menguji jaringan listrik Asia secara bergelombang hingga 2027
Konsumen bisa jadi pada akhirnya harus menanggung dampaknya lewat kenaikan tarif listrik.
Pasar listrik di Asia diperkirakan menghadapi periode pasokan yang kian ketat dan permintaan yang menguat secara berturut-turut, seiring berkembangnya fenomena Super El Niño, dengan tekanan yang diperkirakan bergeser antarnegara mulai akhir 2026 hingga semester pertama (H1) 2027, menurut para analis.
Eldon Lopes, research manager for meteorology di Wood Mackenzie Ltd., mengatakan fenomena cuaca ini sudah menyamai intensitas El Niño musim semi 2015, meski baru dimulai lebih lambat tahun ini. Ia menambahkan, fenomena ini diperkirakan akan melampaui kejadian El Niño 2015-2016 dan 1997-1998, sehingga berpotensi menjadi El Niño terkuat yang pernah tercatat.
Yi Ming, profesor di Department of Earth and Environmental Sciences, Boston College, memperkirakan suhu permukaan laut di Pasifik timur akan mencapai sekitar 3,5 derajat Celsius di atas normal pada Oktober mendatang.
“Itu artinya El Niño kali ini resmi masuk kategori super El Niño, karena definisinya berada di atas 2,5 derajat Celsius,” ujarnya kepada Asian Power melalui panggilan Zoom. “Perkiraan saat ini adalah fenomena ini akan mencetak rekor baru.”
Nikhil Babu, research analyst for power and renewables di Wood Mackenzie, mengatakan dampaknya akan berupa “rangkaian tekanan bergilir pada sistem kelistrikan di berbagai negara Asia, bukan satu puncak tunggal yang berlaku di seluruh kawasan.”
Menurut Lopes dalam jawaban tertulis melalui email, fenomena El Niño biasanya berlangsung enam bulan hingga sedikit lebih dari satu tahun. Puncak intensitasnya diperkirakan terjadi mulai akhir musim gugur 2026 hingga awal musim dingin 2026-2027, dengan pasar-pasar di Asia akan merasakan dampak terberat mulai kuartal keempat (Q4) 2026 hingga kuartal kedua 2027.
Babu menyebut, waktu (timing) akan menjadi risiko utama, mengingat puncak permintaan listrik terjadi pada periode yang berbeda-beda di setiap pasar Asia.
India dan Thailand sudah melewati puncak permintaan musim semi mereka, sementara Tiongkok diperkirakan mencapai puncak permintaan sebesar 1.575 hingga 1.600 gigawatt (GW) antara Juli dan September. Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus, sementara puncak permintaan Vietnam berada di kisaran 58 GW.
Australia dan Selandia Baru menghadapi risiko yang muncul belakangan, yakni antara Desember dan Februari, saat permintaan musim panas berpotensi bersamaan dengan kondisi El Niño yang semakin kuat, ujar Babu.
Menurut Ming, guncangan pasokan besar pertama berpotensi muncul pada Q4, seiring perairan Pasifik timur yang lebih hangat memicu kondisi lebih kering di Asia Tenggara dan menurunkan ketersediaan tenaga air (hydropower).
Gelombang kedua diperkirakan menyusul sekitar satu bulan kemudian, seiring dampaknya bergeser dari sisi pasokan ke sisi permintaan listrik. Ia menambahkan, Indian Ocean Dipole yang positif berpotensi memperparah efek kekeringan tersebut dengan menarik curah hujan menjauh dari Asia Tenggara.
“Curah hujan biasanya mengikuti pola lautan yang hangat,” kata Ming.
Kondisi yang lebih panas juga berpotensi membatasi pembangkit listrik termal, apabila air pendingin menjadi terlalu hangat untuk mengoperasikan pembangkit secara efektif. Operator pun bisa terpaksa menurunkan output atau menghentikan sejumlah unit pembangkit, menciptakan kendala pasokan yang terpisah dari ketersediaan bahan bakar maupun tingkat hydropower.
Dinita Setyawati, senior energy analyst for Asia di Ember Energy Research CIC, menekankan pentingnya memasukkan aspek mitigasi risiko bencana dan perencanaan energi ke dalam perencanaan sektor kelistrikan.
Beberapa langkah yang bisa ditempuh antara lain mengamankan instalasi panel surya atap (rooftop solar), membuat ladang angin lebih tahan terhadap air dan banjir, serta mengembangkan jaringan listrik yang lebih pintar dan otomatis, ujarnya.
Setyawati menambahkan, perusahaan utilitas juga perlu mengintegrasikan prakiraan cuaca berfrekuensi tinggi ke dalam perencanaan mereka. Sebagai contoh, Vietnam dapat memanfaatkan penyimpanan baterai untuk menjaga pasokan tenaga surya sekaligus mengimbangi lemahnya output hydropower, sementara Filipina dan Singapura telah mengembangkan sistem prakiraan dan kendali jaringan listrik yang lebih canggih.
Konsumen yang akan menanggung beban biaya
Menurut Setyawati, pembangkit listrik terbarukan yang terdesentralisasi dapat meningkatkan ketahanan sistem, karena gangguan cenderung tidak akan memengaruhi keseluruhan sistem kelistrikan sekaligus.
Babu menjelaskan, lonjakan permintaan yang mencetak rekor di India kemungkinan tidak akan mengancam keandalan pasokan listriknya, mengingat lebih dari 65% kebutuhan listrik negara tersebut dipenuhi dari batu bara. Artinya, pelemahan hydropower akan lebih banyak berdampak pada peningkatan konsumsi batu bara.
Tiongkok menghadapi risiko hydropower yang lebih besar apabila penurunan debit air bertepatan dengan tingginya permintaan di wilayah pesisir timur, sementara Vietnam berpotensi mencatat rekor permintaan justru di tengah musim hydropower yang melemah.
Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menghadapi lonjakan permintaan akibat cuaca panas saat puncak Agustus mereka, dengan margin cadangan yang lebih ketat membuat mereka lebih rentan terhadap kekurangan pasokan energi terbarukan maupun hydropower.
Selandia Baru juga berpotensi menghadapi tekanan signifikan, mengingat hydropower menyumbang sekitar 54% dari total pembangkit listriknya.
Menurut Babu, jaringan listrik Luzon di Filipina serta waduk-waduk di Pakistan yang mengandalkan pasokan air musim hujan (monsoon-fed reservoir) juga rentan terhadap risiko hydropower.
Ia menambahkan, dampaknya akan bervariasi antarpasar, dengan Tiongkok, Vietnam, Australia, dan Selandia Baru menghadapi risiko yang lebih tajam dibandingkan India, yang sebagian besar tambahan permintaannya dapat diserap oleh batu bara.
Setyawati juga memperingatkan bahwa krisis pasokan gas kedua berpotensi memperparah kerugian akibat pelemahan hydropower di pasar-pasar yang bergantung pada gas, seperti Singapura dan Indonesia.
Ia menambahkan, pada akhirnya konsumen bisa menanggung dampaknya lewat kenaikan tarif listrik, atau pemerintah yang menyerap tekanan tersebut melalui subsidi—dengan konsekuensi terhadap keuangan negara.
Menurut Ming, Asia Tenggara menghadapi tekanan permintaan yang lebih besar, karena tingginya kelembapan berpotensi mencegah suhu turun signifikan di malam hari.
“Kita harus terus memasok listrik untuk pendinginan udara selama 24 jam penuh di Asia Tenggara,” tambahnya.
Hasilnya adalah risiko yang terus berpindah di pasar-pasar listrik Asia, dengan tekanan pasokan dan permintaan yang bergeser antarnegara sepanjang sisa 2026 hingga H1 2027.