Sektor bioteknologi India perlu tingkatkan riset orisinal demi dorong inovasi | Asian Business Review
, India
975 views
Photo by Bhupathi Srinu on Unsplash

Sektor bioteknologi India perlu tingkatkan riset orisinal demi dorong inovasi

Innovation pipeline-nya telah tumbuh menjadi lebih dari 2.400 aset.

Sektor bioteknologi India perlu melangkah lebih jauh dari sekadar skala manufaktur dan eksekusi, menuju penciptaan lebih banyak penemuan ilmiah yang orisinal, di tengah rendahnya belanja riset, terbatasnya modal spesialis, dan celah regulasi yang masih membatasi perkembangan inovasi dalam negeri, menurut para analis.

“Sinyal paling jelas terlihat dari kesenjangan antara beban penyakit (disease burden) yang dihadapi India dengan tingkat partisipasinya dalam riset klinis,” ujar Priyanka Aggarwal, Managing Director and Senior Partner di Boston Consulting Group sekaligus India and Southeast Asia Healthcare Practice Leader, dalam jawaban tertulis melalui email.

Menurut laporan Boston Consulting yang dirilis Juli 2026, India membelanjakan sekitar US$2 miliar–US$3 miliar untuk riset dan pengembangan (R&D) farmasi, jauh di bawah Amerika Serikat yang mencapai US$70 miliar–US$75 miliar, sementara tingkat persetujuan paten (patent grant rate) India hanya sekitar 40%, di bawah Tiongkok yang mencapai 57%.

Aggarwal menjelaskan, insentif bagi para peneliti di India masih lebih berfokus pada publikasi ilmiah ketimbang penemuan (invention) itu sendiri, sementara kolaborasi antara akademisi dan industri pun masih terbatas.

Ia menilai sektor bioteknologi India telah unggul dari sisi skala, proses, dan eksekusi, namun tahap pertumbuhan berikutnya menuntut fokus yang lebih besar pada penemuan ilmiah serta bagaimana mengubah hasil riset menjadi produk komersial.

Sejumlah program pemerintah telah membantu membangun sebagian kapabilitas inovasi tersebut. Aggarwal mencontohkan dukungan National Biopharma Mission terhadap pusat-pusat inkubasi dan technology transfer office, sementara Biotechnology Industry Research Assistance Council turut mendukung startup, pengembangan kekayaan intelektual, hingga proyek-proyek teknologi.

Ia juga menyebut sejumlah fasilitas riset gabungan publik-swasta, seperti Centre for Cellular and Molecular Platforms di Bengaluru, serta program seperti BIRSA 101, yang berhasil berkembang dari riset akademik, melalui kemitraan industri, hingga ke tahap pengembangan klinis dan komersialisasi.

Menurut Aggarwal, Tiongkok bisa menjadi acuan (benchmark) dari sisi output inovasi. Meski belanja R&D-nya lebih rendah dibanding Eropa dan AS, Tiongkok menyumbang sekitar 15%-20% dari total pipeline obat baru dunia (novel drug pipeline), didukung oleh investasi pemerintah, biaya tenaga kerja yang lebih rendah, dan rantai pasok yang terintegrasi.

Berdasarkan data Boston Consulting, jumlah pengajuan paten di India telah meningkat lebih dari empat kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Aggarwal menilai, sistem regulasi yang lebih cepat berpotensi menghadirkan manfaat terbesar bagi innovation pipeline kesehatan India dalam 24 bulan ke depan, terutama untuk terapi sel dan gen, pengobatan berbasis mRNA, serta precision medicine.

Ia mendorong perlunya tim review khusus, milestone persetujuan yang jelas, sistem pelacakan aplikasi, serta kapabilitas manajemen proyek yang lebih kuat untuk pengajuan obat-obatan baru.

Sementara itu, Ajay Mahipal, co-founder and general partner di HealthKois Investment Managers Private Ltd., menilai tantangan utama India bukan terletak pada minimnya peluang ilmiah, melainkan pada tingkat kematangan ekosistem pengembangan klinisnya—mengingat selama ini India lebih banyak berperan dalam rekrutmen pasien dan pekerjaan pengembangan, dibandingkan riset di tahap inovasi (innovation-stage research).

Dalam jawaban tertulis melalui email, Mahipal menyebut innovation pipeline India telah berkembang menjadi lebih dari 2.400 aset, dari sebelumnya sekitar 1.500 aset satu dekade lalu.

Ia menambahkan, hanya sekitar 10%-15% perusahaan modal ventura (venture capital) di India yang memiliki keahlian mendalam di bidang farmasi atau bioteknologi, jauh di bawah AS yang mencapai sekitar 60%—menciptakan kesenjangan dalam hal pendanaan maupun evaluasi proyek-proyek ilmiah jangka panjang.

Menurut Mahipal, ketersediaan data biologis dan klinis berkualitas tinggi akan menjadi faktor krusial bagi pengembangan obat berbasis kecerdasan buatan (AI).

Ia memperingatkan, tanpa perubahan pada kebijakan dan alokasi modal, India berisiko tetap menjadi hub pengembangan yang canggih, alih-alih bertransformasi menjadi sumber inovasi bioteknologi kelas dunia.

Reasuransi Asia-Pasifik cari pertumbuhan ke luar negeri seiring persaingan yang kian ketat

Modal reasuransi global diproyeksikan mencapai rekor $705 miliar pada 2026.

ACA pilih AI internal yang lebih lambat demi menjaga kerahasiaan data nasabah

Nasabah di bawah 45 tahun lebih sering memantau klaim asuransi mereka sendiri.

Penjualan bisnis asuransi HSBC dinilai sebagai penyederhanaan portofolio, bukan pergeseran regional

Transaksi asuransi di Asia turun menjadi 31 pada semester pertama dari 41 pada periode yang sama tahun lalu.

RTS Link tekan peritel grocery dan bisnis F&B di Singapura

Konsumen berpotensi membelanjakan US$1,05 miliar lebih banyak per tahun di Johor Bahru.

Ranch Market simpan data pelanggan secara internal demi menjaga layanan premium

Anggota Diamond Plus dapat menghubungi manajer toko secara langsung untuk pesanan khusus.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Pekerja platform masih hadapi kesenjangan layanan kesehatan meski ada perlindungan hukum

Foodpanda dan Singlife meluncurkan program diskon klinik pada Agustus lalu.

Insurtech asia bergeser dari sekadar hype ke fundamental yang lebih kuat

Investor mulai beralih ke perusahaan dengan jalur yang lebih jelas menuju profit.