Operator Pomelo pertaruhkan bisnis pada daur ulang pakaian
Daur ulang garmen tetap mahal tanpa dukungan dari pemerintah atau korporasi.
PT Kurnia Ciptamoda Gemilang (KCG), operator brand fashion Pomelo di Indonesia, memanfaatkan program pengumpulan, penggunaan kembali, dan daur ulang pakaian untuk membangun loyalitas pelanggan, seiring konsumen muda yang semakin peduli pada praktik ramah lingkungan.
“Sebagai retailer, kami harus paham konsumen kami—ke mana arah tren dan apa yang penting buat mereka,” kata Haryanto Pratantara, business and operations director KCG, kepada Retail Asia dalam sebuah wawancara. “Konsumen muda makin sadar lingkungan, dan kami harus mengikuti itu.”
KCG menyediakan kotak donasi di semua gerai Pomelo bagi pelanggan yang ingin menyumbangkan pakaian yang sudah tidak dipakai. Pakaian yang masih layak pakai disalurkan lewat Cinta Laura Foundation ke panti asuhan dan komunitas yang membutuhkan, sementara pakaian yang sudah rusak dikirim ke perusahaan daur ulang tekstil Indonesia, Lestari dan New Factory.
Pratantara mengatakan program ini memungkinkan pelanggan tetap berbelanja pakaian sekaligus memberi kesempatan kedua bagi barang yang sudah tidak terpakai. “Bisnis tetap jalan, gaya berpakaian mereka tetap jalan, tapi barangnya bisa sampai ke orang yang membutuhkan,” ujarnya.
Pada bulan pertama program ini berjalan, KCG berhasil mengumpulkan 231 kilogram pakaian dari delapan gerai—lebih dari dua kali lipat target awal yang hanya 100 kilogram.
Perusahaan sebenarnya meluncurkan program ini tanpa promosi apa pun.
“Beberapa konsumen bahkan datang berkali-kali untuk berdonasi,” kata Pratantara. “Responsnya jauh melebihi ekspektasi kami.”
KCG belum memiliki ukuran pasti soal dampak finansial langsung dari program ini. Pratantara mengatakan perusahaan lebih fokus membangun loyalitas pelanggan lewat praktik yang bertanggung jawab.
Sisi daur ulangnya sendiri lebih sulit dipertahankan, karena mengubah pakaian rusak menjadi bahan baku butuh biaya besar.
Pratantara mengatakan KCG membutuhkan dana corporate social responsibility serta dukungan dari pemerintah Indonesia agar program ini bisa diperluas.
Ia memperkirakan daur ulang akan menjadi praktik standar di industri retail dalam lima tahun ke depan, bukan lagi sekadar pembeda kompetitif.
“Kuncinya ada di pemerintah,” katanya. “Regulasi bisa mempercepat waktunya. Tanpa itu, ini tidak akan bisa berjalan,” tambahnya.