Brand sportswear andalkan rantai pasok demi jaga margin
Aktivitas outdoor dan olahraga wanita diperkirakan menopang permintaan di kawasan ini.
Brand sportswear kini beralih ke demand forecasting, penyederhanaan lini produk, dan diversifikasi sourcing untuk menekan kelebihan stok sekaligus mengimbangi tekanan kenaikan biaya, di tengah keengganan konsumen menerima kenaikan harga, menurut para analis.
Valerie Van Tran, partner di Delta West Group (Singapore) Pte. Ltd., mengatakan brand dapat menjaga margin dengan beralih dari produk berbasis tren fashion ke produk fungsional yang menonjolkan daya tahan, kenyamanan, dan nilai guna.
“Seiring konsumen yang semakin cermat dalam berbelanja di tengah ketidakpastian ekonomi makro, permintaan pakaian fungsional diproyeksikan tumbuh 74% hingga 2033—menunjukkan bahwa konsumen kini bersedia membayar lebih demi kualitas, bukan sekadar mengikuti tren,” ujarnya kepada Retail Asia.
Ia menyebut Uniqlo Co. Ltd. sebagai contoh brand yang berhasil menerapkan pendekatan ini hingga menjelma menjadi salah satu retailer apparel terbesar dunia. Sejumlah perusahaan asal Tiongkok seperti Shein dan Temu milik PDD Holdings, Inc. juga turut mengubah lanskap persaingan lewat demand forecasting berbasis kecerdasan buatan (AI) serta rantai pasok yang lebih gesit (agile), tambah Van Tran.
Menurutnya, sistem semacam ini memungkinkan peluncuran produk yang lebih cepat, risiko kelebihan stok yang lebih rendah, serta barang tak terjual yang lebih sedikit dibandingkan model ritel konvensional.
Van Tran menyarankan brand sportswear untuk berinvestasi pada AI, rantai pasok digital, dan analitik data guna memperbaiki demand forecasting, mempersingkat siklus pengembangan produk, mengelola inventori dengan lebih baik, serta mempersonalisasi pengalaman pelanggan.
Menurut laporan Euromonitor International Ltd. yang dirilis Juli lalu, perusahaan sportswear kini menghadapi tekanan untuk mempertahankan pertumbuhan, di tengah kenaikan biaya, ketegangan geopolitik, dan sikap belanja konsumen yang semakin berhati-hati—yang bersama-sama mengubah wajah pasar global.
Konsumen kini semakin selektif dalam berbelanja, sehingga nilai guna, performa produk, dan daya tahan menjadi faktor yang kian penting.
Aditya Kaushik, analis di Coresight Research, Inc., mengingatkan bahwa brand sportswear berisiko kehilangan pelanggan jika hanya mengandalkan kenaikan harga di tengah konsumen yang semakin selektif.
“Brand perlu memberi alasan yang jelas kepada konsumen untuk mau membayar lebih mahal: entah lewat performa, daya tahan, desain, atau layanan yang lebih baik,” ujarnya kepada Retail Asia.
Kaushik menyarankan brand untuk menyederhanakan lini produk, menghentikan produksi model yang kurang laku, mengurangi diskon, serta memperkuat kolaborasi dengan pemasok. Diversifikasi sourcing, tambahnya, dapat mengurangi eksposur terhadap tarif dan gangguan rantai pasok, sementara forecasting yang lebih akurat dapat membatasi kelebihan stok dan potongan harga.
Kaushik mencontohkan Ralph Lauren Corporation sebagai brand yang berupaya memperbaiki bauran produk (product mix) dan pengalaman pelanggan, sembari lebih memilih promosi yang tertarget dibandingkan diskon besar-besaran.
“Cara ini menjaga persepsi nilai produk sekaligus tetap mengendalikan margin,” katanya.
Menurut Euromonitor, kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan menjadi pasar sportswear dengan pertumbuhan tercepat hingga 2030, sementara Amerika Utara, Eropa, serta Timur Tengah dan Afrika akan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan global dari sisi nilai.
Permintaan diperkirakan akan terus ditopang oleh aktivitas outdoor, lari, olahraga raket, serta pertumbuhan berkelanjutan pada segmen olahraga wanita.